• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Pemancangan Simbol Kerajaan Tuhan di Eden

Selasa malam yang lalu aku dapat SMS dari Mahoni, diundang untuk hadir di acara pemancangan simbol Kerajaan Tuhan di Eden. Selain dihadiri kaum Eden, acara juga mengundang para sahabat/pemerhati Eden.

Undangan buat hari Rabu (5/12) jam 10.00. Dari rumah, aku berangkat bersama anak-anak. Tapi karena kena macet dan busway di Kampung Melayu sangat penuh, aku baru sampai di Mahoni jam 11.15. Acara sudah dimulai.

Karena terlambat, aku duduk di ruang tamu. Di ruang tamu ketemu Irsa (Wahana Kebangsaan), Anick & Aniqoh (aktivis JIL), Asfinawati, Mayong (LBH Jakarta), Hafidz (Ahmadiyah), pak Supena (Intel), juga ada seorang peneliti keagamaan dari Perancis.

Dari luar acara dan sapaan masih bisa didengarkan. Juga turun wahyu Tuhan bahwa keadaan yang dialami bangsa Indonesia akan semakin memburuk dan semakin berat oleh berbagai bencana yang terus mengepung. Di tengah neraka bencana itu, Tuhan memancangkan Surga dan Kerajaan-Nya sebagai penyeimbang keadilan-Nya.

Acara dilanjutkan dengan pemasangan pataka di dalam ruang dan pemasangan simbol Kerajaan Tuhan di halaman.

(aku terlambat menulis peristiwa ini karena aku menunggu salinan wahyu Tuhan dari Andit yang ternyata sampai saat ini masih belum selesai ditranskrip)

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.