• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Ego dalam perdebatan Islam-Kristen

Membaca beberapa diskusi Islam-Kristen di Internet, rasanya sedih melihat realitas keberagamaan yang berkembang. Menyedihkan melihat isinya hanya perdebatan dan masing-masing mengunggulkan agamanya dengan merendahkan agama orang lain. Keadilan dan ketulusan seringkali hilang, tergantikan keinginan untuk mengalahkan argumentasi lawan diskusi.

Buat apa semua itu? Mau meyakinkan orang yang berbeda agama? Pasti tak manjur karena setiap orang tetap berada dalam keyakinannya masing-masing. Rasanya yang didapat cuma kepuasan pribadi dan semakin membangun ego saja. Bangga kalau bisa mengalahkan argumen orang lain, ngeles dan menyerang balik kalau sedang salah membuat pembelaan.

Menurutku, model diskusi perdebatan iman tak ada gunanya sama sekali, bahkan sangat buruk untuk spiritualitas orang yang terlibat. Bagaimana dengan nasib ajaran Tuhan (Islam atau Kristen) yang sedang dibela itu? Menurutku lebih tragis lagi; perdebatan itu menciptakan apriori bagi masyarakat terhadap Tuhan dan ajaran-Nya.

Iman adalah sebuah pertanggungjawaban pribadi kepada Tuhan. It’s personal. Dialog iman, dalam konteks hubungan antar-keyakinan wujudnya berupa sharing: bercerita dan bertanya; tanpa penghakiman dan pelecehan terhadap keyakinan lain. Perbedaan (jika ada) tetap dinyatakan dalam konteks keragaman dan cara pandang yang berbeda. It’s oke.

Membela Tuhan? Tidak perlu, Tuhan tidak perlu dibela. Tugas kita adalah memperbaiki spiritualitas kita terus menerus agar diri kita benar-benar menjadi rahmat bagi semesta alam. Kebenaran iman yang kita yakini secara natural akan diapresiasi orang lain kalau kita menjadi orang yang tulus, adil, penuh cinta dan pelayanan kepada masyarakat.

Apapun fitnah dan hujatan para penentang Tuhan, tak akan menodai kemuliaan Dia dan ajaran-Nya. Yang menodai ajaran-Nya adalah saat kita yang mengaku mengimani-Nya melakukan hal-hal buruk yang tak mencerminkan pengajaran-Nya.

5 Tanggapan

  1. adalah hak setiap manusia untuk percaya pada Tuhan atau tidak.
    dan hak setiap orang juga untuk menentukan dengan cara seperti apa dia menyembah Tuhannya,dengan jalan yang bagaimana dia memuja Tuhannya,dengan ajaran yang seperti apa dia mengabdi pada Tuhannya.
    kadang manusia jadi sedemikian egois, saia rasa itu memang kodrat manusia sebagai makhluk individu.
    kadang manusia jadi sedemikian fanatik terhadap apa yang dipercayainya.
    dan itu wajar bagi saia.
    mungkin dibutuhkan cara yang tepat untuk memanage kefatikan yang muncul pada diri manusia.

  2. dialog (antar) iman? utk apa? kan jelas masing2 ajaran berbeda. dan masing2 umat sangat yakin ttg ajarannya. atau (jangan2) dialog dlm rangka proses peleburan agama2 formal? itu non sense dan ngawur.
    memang lebih tepat kalau diambil langkah me-manage “kefanatikan” yang muncul spt kata sdr endjivanhouten.
    kefanatikan yang bagaimana? tentu yg merusak manusia (lain) seperti terorisme atau provokasi2 ala FPI, RMS dsb.

  3. Dialog itu sah-sah saja. Di jaman IT begini, tidak ada informasi yang dapat disembunyikan lagi.

    Yang penting bukan diskusinya, tapi hati yang mau belajar menerima pendapat orang lain tanpa kemarahan.

    Salam,

    Kebenaran Sejati

  4. Mas TurunKeBumi…
    Saya melihat tulisan2 Anda memojokkan Islam.
    Dalam artian, Semua yang Anda kutip adalah berita-berita yang membuat orang Islam dituding sebagai orang yang jahat.
    Dan tidak ada sama sekali tulisan tentang kebusukan-kebusukan sebagian orang kristen di Indonesia dan tingkah-laku mereka yang berusaha menghancurkan Iman & Islam rakyat Indonesia.
    Apa misi Anda? Apakah Yesus Yang Mulia mengajarken hal itu?
    Tapi saya masih salut pada Anda, Anda menyataken hal itu dengan sopan, tidak ada caci-maki spt faith freedom.

  5. #Bisnis Paypal:
    Saya bukan seorang Kristen mas. Saya dibesarkan dalam Islam dan lebih 35 tahun beragama Islam. Tapi, saya sekarang menjadi seorang monotheis-ethis, seperti jejak yang pernah ditinggalkan oleh Ibrahim.

    Saya mempercayai, banyak praktek keberagamaan umat Islam (yang mayoritas di negeri ini) yang seharusnya diperbaiki. Mudah-mudahan Ulama & umat membuka diri dan mau berefleksi, tak sekedar berapologi dan mencari pembenaran kesalahannya.

    Tentu saja saya memahami bahwa di kalangan Kristen pun ada orang yang “busuk”. Dan mereka layak untuk mendapat kritik dan celaan untuk itu.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: