• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Tujuan spiritual di Eden

Tujuan spiritual manusia menurut pembimbingan Ruhul Kudus di Eden adalah agar manusia kembali menjadi kebaikan yang murni, yaitu menjadi malaikat.

Bertuhan bukan sekedar berusaha menjadi orang yang baik, menjauhi dosa, dan berakhlak mulia. Semua itu memang tujuan dan output spiritualitas yang benar, tetapi bukan terminal final penitian spiritual.

Di Eden, Ruhul Kudus menjelaskan bahwa manusia terlahir dengan karma-karma yang menempel dari kehidupannya dahulu. Itulah “unfinished business” yang harus diselesaikannya pada kehidupan saat ini. Pemeluk agama Semit menyebutkan karma ini dengan istilah berhala pribadi.

Berhala pribadi itu bersifat khas, tiap orang berbeda-beda. Ada yang berhala pribadinya nama baik, ketakutan, kemarahan, nafsu seks, kemiskinan, ketergesaan, kekuasaan/pengaruh, dan sebagainya. Ada yang sifatnya menarik (misalnya ketakutan), ada yang sifatnya mendorong (misalnya keinginan).

Berhala membuat seseorang tidak dapat mengambil keputusan secara jernih sesuai panggilan nuraninya. Berhala ketakutan (terhadap apapun), membuat seseorang cenderung menghindari kondisi yang ditakutinya itu. Berhala keinginan (terhadap apapun) membuat seseorang tidak dapat menahan diri mengejar sesuatu yang diinginkannya.

Ketika seseorang telah menjauhi dosa dan mengisi hidupnya dengan kebajikan, titian berat dalam hidupnya selanjutnya adalah meluruhkan berhala-berhala pribadinya. Titian ini sangat licin dan sulit karena setiap berhala bersifat melekat dan compulsive pada diri kita. Kita cenderung gagal di “titik itu”.

Jika kita gagal mengkonfrontir dan meluruhkan berhala pribadi kita, maka berhala itu akan tetap melekat pada kita untuk kita selesaikan dalam kebangkitan selanjutnya. Sebaliknya, kalau kita berhasil meluruhkan berhala pribadi kita, maka itulah tanda “kemenangan spiritual” kita. Itulah saat kita dilayakkan menjadi kebajikan murni, menjadi malaikat, kembali ke haribaan Tuhan untuk menjadi kehendak-Nya yang menyatu bersama semesta.

Menjadi manusia yang baik hanya tujuan-antara berspiritual. Tujuan besarnya adalah meluruhkan berhala pribadi dan menyatu bersama kehendak Tuhan di semesta. Itulah pengajaran di Eden yang kuketahui.

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.