Setelah keberangkatan ke Bali sempat tertunda karena jadwal sidang Bom Bali yang diundurkan, akhirnya kami berangkat bersama pada hari Senin, 19 Agustus 2003. Rombongan dari Pandaan berangkat semua kecuali Satya yang mendapat ujian untuk tinggal dan menjaga rumah Pandaan sementara kami semua pergi ke Bali.
Sebelum meluncur ke arah Banyuwangi yang menjadi tempat transit kami, rombongan menuju Surabaya untuk sarapan mie ayam di Jl. Walikota Mustajab. Tempat itu adalah nostalgia tempat Bunda dulu suka jajan ketika SMP. Menurut cerita Bunda, tempatnya yang sederhana dan penjualnya tak berubah sejak jaman dulu. Yang berubah tentu saja penjualnya yang kini sudah berubah menjadi sangat tua dan berjalan terbungkuk-bungkuk. Walaupun begitu, nenek tua yang bernama Fu Fu In itu tetap bersemangat melayani pembelinya.
Dari tempat makan, kami menuju Pasar Genteng Kali dan membeli buah-buahan sembari meninggalkan jejak Jibril melalui pakaian yang kami kenakan. Setelahnya kami berkonvoi menempuh jalan panjang menuju Banyuwangi. Sempat mampir sebentar di sentra meubel di Randusari-Pasuruan, melihat matahari terbenam (sunset) di Pasir Putih, dan melintasi hutan di Taman Blauran yang gelap gulita, akhirnya kami sampai dan menginap di perumahan pabrik kertas Basuki Rahmat, tempat Ibu Ietje dulu tinggal sebelum pindah sepenuhnya di Jakarta.
Keesokan harinya, kami menyeberang ke Gilimanuk dari Ketapang dengan menggunakan kapal feri. Peristiwa di kapal Feri dan sepanjang perjalanan menuju Denpasar itulah yang kemudian memicu teguran Tuhan kepada kami.
Kisahnya bermula dari kegembiraan yang kami rasakan dalam perjalanan. Berada di kapal feri yang relatif kosong dan tak banyak penumpangnya, kami serasa berada di kapal pesiar dan bercanda-canda dengan menyebut acara kami sebagai Sagas, sebuah acara di televisi tentang kehidupan orang-orang kaya dunia. Entah darimana mulainya, teman-teman kemudian membeli kacamata hitam yang dijual oleh penjual asongan yang ada di atas kapal feri itu. Bahkan Bunda mendesak Mas Rahman yang tak mau membeli kacamata hitam untuk ikut membelinya. Canda dan tawa lepas berderai di kapal feri itu seiring dengan kegembiraan dan tawa lepas Bunda. Selepas dari kapal, kegembiraan terus mengiringi kami walaupun mobil Carens yang dikemudikan pak Umar dan ditumpangi Bunda sempat terpisah dari konvoi. Ketika bertemu lagi di sebuah rumah makan di daerah Terminal Ubung, Bunda bercerita dengan bersemangat tentang kisah mobilnya yang tersesat dan kami pun tertawa berderai di rumah makan itu.
Dari Terminal Ubung, rombongan bertemu dengan Mbak Feni, jamaah yang tinggal di Bali dan kemudian bergabung serta menjadi pemandu selama kami berada di Bali. Di Bali ini pun, beberapa teman kemudian ikut bergabung semisal Mbak Aisyah yang meluncur dari Lombok begitu mendengar rencana kami untuk ada di Denpasar. Selain itu, ada Feri dan Kelik yang naik pesawat dari Jakarta setelah menyelesaikan urusan-urusan pekerjaannya. Maka ramailah suasana tempat kami menginap yang merupakan sebuah hotel butik yang kecil dan cantik di kawasan Legian. Hanya ada lima paviliun di sana, dan rombongan Salamullah mengisi 4 paviliun sementara satu paviliun diisi oleh beberapa turis dari Australia. Di villa itu kami sempat bernyanyi bersama bahkan beberapa orang berenang di kolam jernih yang berada di tengah paviliun.
Tapi kegembiraan itu tak berlangsung lama. Malam hari sekitar pukul 22.00 pemilik hotel menelpon Mas Agus dan meminta agar rombongan Salamullah tidak terlalu ramai sehingga mengganggu turis asing yang ada di sana. Telpon itu kemudian berujung pada pernyataan bahwa rombongan hanya diperkenankan tinggal satu malam di sana dari rencana tinggal dua malam di sana.
Pengusiran itu tentu saja mengejutkan bagi kami. Kami tak tahu alasan yang pasti dari pengusiran itu. Bahkan para turis Australia itu juga sempat heboh ketika mengetahui bahwa kami diminta meninggalkan tempat itu dan mereka menyatakan tak berkeberatan dengan kegiatan kami bernyanyi-nyanyi. Tapi karena tak mau ribut, pagi harinya kami bersegera mencari tempat penginapan lainnya sebelum berangkat menuju Gedung Nari Graha, tempat pengadilan terdakwa bom Bali disidangkan.
Secara teknis pengusiran itu telah terjadi. Secara spiritual, Malaikat Jibril menjelaskan bahwa sesungguhnya itu adalah teguran Tuhan bagi kami yang tak pandai menjaga kesakralan amanah-Nya dan pakaian yang kami kenakan. Kami dianggap berperilaku dan melakukan kegembiraan yang tak pantas selama berada di atas kapal feri dan perjalanan menuju Bali. Kepada kami, Malaikat Jibril menyatakan bahwa Tuhan tak segan-segan mempermalukan kami di hadapan seluruh bangsa Indonesia jika kami melakukan kesalahan. Tuhan tak menjaga kemuliaan dan harga diri kami, tetapi akhlak dan kesucian kamilah yang akan menjadi penjaga bagi diri kami.
Tapi seperti biasa teguran Tuhan senantiasa berarti juga penjagaan. Teguran itu membuat kami semakin waspada dan berhati-hati dalam bersikap. Selain itu kami mendapatkan informasi bahwa pemilik hotel itu adalah seorang pejabat pertanahan yang diindikasikan melakukan hal-hal yang tak benar dalam jabatannya. Jika memang begitu, berarti kepergian kami juga merupakan simbol penjagaan Tuhan dari hal-hal yang haram dan meragukan.
DIarsipkan di bawah: Diari, Perjalanan, eden, ldc, religi | Ditandai: eden, religi, Perjalanan, salamullah, Bali