• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Tamparan Tuhan

Dalam kegundahan, aku kembali ke kamar. Lala baru selesai dari mandinya.

Di kamar, tiba-tiba aku ingin membuka Al Quran untuk mencari petunjuk Tuhan. Ya.. membuka Kitab Suci secara acak adalah cara yang diajarkan Ruhul Kudus di Eden untuk mencari petunjuk Tuhan yang personal. Dalam ayat yang terbuka, terbaca, dan terbetik di dalam hati, di sana ada petunjuk Tuhan. Kuncinya adalah keterbukaan hati dan tak hanya sekedar mencari jawaban yang diinginkan dan memuaskan hati.

Aku jarang berdoa dan mencari petunjuk Tuhan dengan cara itu. Tapi saat ini, keinginanku tiba-tiba muncul. Aku kemudian keluar dan mengambil Al Quran serta membukanya secara acak di kamar. Ternyata, yang terbuka dan terbaca olehku sangat mengejutkan.

It shocked me…!

Terbuka dari Al Quran surat Al A’raf ayat 175-177.

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.

Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.”

Oh my God… teks ayat-ayat yang kubaca itu menghantam kesadaranku dengan keras. It struck my head. Rasanya aku seperti tertampar hingga terjengkang ke belakang.

Ya… Ayat yang terbaca itu seperti ditujukan kepadaku. Rasanya Tuhan seperti sedang berbicara kepadaku.

Selama ini aku memang menerima logika itu secara samar-samar dalam hatiku. Tapi aku berusaha mengabaikannya dan mengalahkannya dengan logika-logikaku sendiri. Ketika petunjuk itu begitu eksplisit dan muncul secara mengejutkan, aku benar-benar tak menyangka.

Seluruh persendianku lunglai. Tamparan Tuhan itu benar-benar menghunjam dengan dahsyat pada seluruh diriku dan membuatku terbangun dari tidur lelap dan penyangkalanku. Pukulan itu seolah meruntuhkan batu kebekuan yang kubuat untuk menjustifikasi keputusanku.

Aku terjaga, tapi tanpa tenaga. Aku bengong. Tak ada air mata lagi yang keluar dari mataku. Ada sebuah kelegaan aneh yang meliputiku. Aku berusaha melawan kelegaan itu dengan sisa-sisa tenagaku, tapi aku tak mampu.

Akhirnya, kupeluk Al Quran erat-erat dalam dekapanku. Aku tidur dengan Al Quran dalam pelukanku. Lamat-lamat kudengar Lala pamit berangkat ke Mahoni. Dan aku terlelap dengan Al Quran tetap dalam pelukanku.

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.