Bermacam-macam sambutan yang kami terima ketika mengunjungi para dukun. Pada satu sisi, kami tak ingin berbantah-bantahan atau dimarah-marahi. Tetapi kami pun juga tak mau disambut dengan penghormatan berlebihan sebagaimana pernah diterima oleh rombongan Pak Umar.
Pengalaman diancam paranormal pernah kualami bersama rombonganku. Suatu ketika kami mengunjungi seorang paranormal yang masih muda dan bertampang jawara. Dengan suara yang dibuat rendah dia berusaha menunjukkan wibawanya ketika menerima kami diantara anak-anak muda yang melayaninya serta menjadi muridnya. Pada saat pertemuan, dia menyatakan keberatan untuk difoto yang kebetulan sudah diambil oleh Lala. Karena kamera yang digunakan adalah kamera digital, menghapus foto yang sudah diambil bukanlah hal yang mustahil. Masalahnya, Lala baru memegang kamera itu sehingga tidak familiar dengan prosedur menghapus gambar yang sudah diambil. Hal itu sedikit membuat ketegangan karena paranormal yang menyebut dirinya guru besar itu terus mengulang-ulang ketidaksukaannya mengenai foto itu.
Yang menarik, sepanjang percakapan itu berulang-ulang dia berusaha meyakinkan kami –tanpa kami minta– bahwa muridnya sudah ribuan dan banyak diantaranya adalah polisi. Dan para polisi itu pun bukan sekedar polisi rendahan tetapi adalah para perwira. Untuk meyakinkan kami, dia menelpon salah seorang polisi melalui handphone-nya dan meminta Lala untuk berbicara dengan polisi itu. Sementara itu, kami tak tahu apa maksudnya meminta Lala untuk berbicara dengan polisi. Kalau memang benar muridnya ribuan dan ada yang polisi, so what..?
Dalam kesempatan itu pula, dia berulang kali menyatakan tak mau menyombongkan diri. “Hanya perlu diketahui, saya ini masih keturunan wali…”
***
Kata orang, kalau ada paranormal yang mengancam-ancam dan emosional, biasanya itu tanda bahwa ilmunya belum terlalu tinggi. Apalagi jika disertai menyebut-nyebut garis keturunan, ilmu, atau jumlah pengikutnya.
Yang lebih lebih jago itu biasanya sikap luarnya santun. Nah, kalau yang seperti itu agak sulit mengenali dan menghadapinya. Kalau tak melihat iklan yang dibuatnya dan jasa yang ditawarkannya, orang bisa menganggapnya sebagai representasi kebenaran.
Untuk yang satu ini, kami pun mempunyai cerita.
Dalam suatu kesempatan mendatangi paranormal, rombongan Pak Umar pernah disambut dengan sangat baik oleh seorang paranormal. Bukan hanya ditempatkan di sebuah tempat (ruang tamu) yang khusus, paranormal tersebut dengan sangat santun memberikan jamuan penghormatan, mendengarkan dan membenarkan apa-apa yang disampaikan. Bahkan dia mengantarkan rombongan hingga kembali ke kendaraan yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya. Pada kesempatan lain, seorang paranormal bahkan menyatakan minta dibimbing dan suatu saat ingin mengundang Salamullah untuk melakukan doa bersama dalam acara mereka.
Penerimaan yang baik itu tentu saja membahagiakan. Apalagi dalam kondisi lelah dan beban tanggung jawab menyampaikan peringatan Tuhan yang keras kepada kaum supranatural. Sambutan yang baik tersebut seolah menjadi air penyejuk.
Tetapi di dalam penyambutan yang sangat baik semacam itu kami tetap harus menjaga keseimbangan spiritual kami. Bukan hanya menggembirakan, sambutan semacam itu ternyata dapat menjadi pintu yang melenakan tatkala kami berfokus pada kebaikan sambutannya sehingga melupakan fakta bahwa mereka termasuk orang-orang yang sedang mendapat peringatan Tuhan. Kalau tak berhati-hati, fakta bahwa mereka mengiklankan diri dan telah memberikan layanan pelet, azimat, kekebalan dan aneka layanan mistik lainnya dapat menjadi kabur oleh kebaikan penyambutannya.
Oleh karena itu, dalam sharing setelah kunjungan kepada paranormal, Imam Mahdi Abdul Rahman sempat mengingatkan kami semua untuk menjaga hati: tak gentar oleh kemarahan dan ancaman; tapi juga tak silau oleh sambutan dan pujian.
***
Pengalaman lain selama perjalanan mendatangi paranormal adalah ditantang dukun sebagaimana pernah dialami oleh rombongan Yusuf Amin ketika mengunjungi salah seorang paranormal di daerah Bekasi.
Paranormal itu mungkin heran melihat ada orang yang berani memberikan peringatan kepadanya. Apalagi, dia mungkin dapat mendeteksi bahwa kami semua tak mempunyai ilmu kesaktian apapun. “Bagaimana mungkin orang-orang semacam ini berani-beraninya memperingatkan dengan membawa-bawa nama Malaikat Jibril dan Allah…?” mungkin itu yang ada dalam pikirannya –wallahu a’lam–.
Kepada rombongan Yusuf Amin, dia menyatakan bahwa bismillah-nya berbeda dengan bismillah orang lain karena Allah langsung menjawab doanya. Dalam dialog yang terjadi saat itu, dia menantang Pak Adnan –salah satu anggota rombongan Yusuf– untuk membuktikan bahwa Allah itu dekat. Karena Pak Adnan tidak dapat memberikan jawaban yang menurutnya riil, maka dia pun menyatakan akan menunjukkan bahwa Allah sangat dekat dengannya.
Kepada Pak Adnan, dia meminta untuk memegang sebuah azimat berbentuk benda kecil sebesar ibu jari. Kemudian dia menuntun Pak Adnan untuk membaca kalimat pujian kepada Allah. Setelahnya, seorang muridnya memukul azimat itu dengan martil. Melalui peragaan itu dia ingin menunjukkan bahwa doa Pak Adnan tidak “sakti” karena azimat itu bisa dipukul dengan martil.
Setelahnya, paranormal itu membaca lafal doa untuk menunjukkan kepada kami bahwa Allah sangat dekat dengannya. Azimat yang didoakannya itu kemudian berusaha dipukul oleh muridnya tapi tak bisa karena muridnya selalu terlontar ke belakang. Menurutnya, itulah tanda bahwa Allah dekat dengan dirinya dan mengabulkan doanya.
Selesai tantangan menggunakan azimat yang dipukul, paranormal itu mengambil sabit dan menantang rombongan Yusuf untuk mencoba keampuhan doa dengan sabit. Caranya, Yusuf diminta mendoakan dan memegang azimat itu, kemudian tangannya akan dipukul dengan sabit. Jika Yusuf kebal, menurutnya itu tanda bahwa doanya ampuh dan diterima Allah.
Tapi tantangan itu tak dipenuhi oleh Yusuf Amin dan rombongan karena bukan itu misi kedatangan mereka ke sana. Dengan tersampaikannya peringatan dari Malaikat Jibril, sesungguhnya misi kedatangan mereka telah tertunaikan. Mereka tak berurusan dengan pembuktian kesaktian atau ilmu kanuragannya.
(Kutipan dari buku “Gerakan Suci Jibril”, catatan perjalanan Kaum Eden-Salamullah tahun 2003 ketika menyampaikan pesan dan peringatan Tuhan tentang ketauhidan dengan cara mendatangi tempat praktek paranormal dan kyai-kyai yang mengajarkan ilmu mistik dan kanuragan, serta media massa baik cetak maupun elektronik. Perjalanan dilakukan mulai Banten di ujung barat Jawa hingga Banyuwangi di ujung timur Jawa.)
DIarsipkan di bawah: Perjalanan, buku, eden, gsj, religi | Ditandai: 2003, gerakan suci jibril, Perjalanan, religi, salamullah