Malam setelah perjalanan pertama kami, Mas Rahman menelpon ke Pandaan untuk melaporkan kepada Bunda kegiatan hari itu. Di dalam telpon itu, Mas Rahman juga menceritakan tentang kelompokku yang sempat dimarahi seorang paranormal dan menerima uang Rp 500 ribu. Menerima laporan itu, Bunda tertawa dan menyatakan bahwa uang itu adalah perimbangan dari kemarahan yang kami terima pada awal perjalanan. Mengenai uang, Bunda minta agar uang itu kami simpan.
Mendengar jawaban Bunda, hati kami yang was-was pun tenang. Penerimaan uang itu adalah ijtihad di lapangan dengan mempertimbangkan antara nilai yang seharusnya dan keadaan di lapangan.
Tapi ternyata tak lama kemudian Bunda ganti menelpon dari Pandaan dan menyatakan bahwa kami tak boleh menerima uang itu dan harus membakarnya. Berarti, ijtihad yang kulakukan itu adalah sebuah kesalahan dan aku seharusnya tak menerima uang itu bagaimanapun keadaannya.
Malam itu aku pulang ke rumah setelah menyelesaikan pembakaran uang yang tak seharusnya kami terima. Dan keesokan harinya, aku mendapat kabar bahwa semalam ada sapaan dari Malaikat Jibril di Pandaan. Sapaan adalah istilah untuk pengajaran yang diberikan oleh Malaikat Jibril. Di dalam sapaan itu, Malaikat Jibril menegur dengan amat keras kepada kami yang minum minuman yang disediakan paranormal yang kami kunjungi. Selain itu, teguran yang keras juga diberikan kepadaku yang menerima uang pemberian paranormal. Menurut Malaikat Jibril, kami sama sekali tak diperkenankan untuk menerima apapun dan mengambil benda apapun yang ada di sana. Semua benda itu menurut Malaikat Jibril sudah menyatu dengan praktek kemusyrikan yang dilakukan oleh para dukun itu dan dapat menjadi sarana bagi pengaruh iblis. Maka, Malaikat Jibril pun memerintahkan siapapun yang minum untuk membakar mulutnya dan membakar tangannya bagi yang menerima uang. Dan kami diperintahkan untuk bertaubat kepada Allah atas kebodohan yang kami lakukan itu.
***
Teguran keras Malaikat Jibril itu tentu saja mengejutkanku. Tapi dalam hati aku mengerti bahwa “pertarungan” dengan para dukun adalah sebuah peperangan gaib yang merupakan perwujudan peperangan malaikat melawan iblis. Dalam pertarungan itu, kami harus dapat menjaga diri sehingga iblis tak dapat mempengaruhi kami melalui sarana yang dapat digunakannya, semisal air minum ataupun benda-benda yang ada di sana.
Pensucian dengan api bukanlah hal yang baru bagi kami (baca buku “LOVING YOU”, bagian “Pensucian Api”). Tetapi untuk mengalaminya lagi tetaplah sebuah pengalaman yang menggentarkan. Pensucian itu dilakukan dengan cara mengolesi sedikit spiritus pada sebagian tubuh kami yang kemudian dinyalakan dengan nyala api. Ketakutan dalam hati menghadapi api jauh lebih besar daripada rasa panas yang kami rasakan akibat api itu. Api itu serasa seperti shock therapy dari Tuhan belaka.
Ternyata, banyak teman-teman di kelompok lain yang minum di tempat paranormal yang kami datangi. Sebagian karena tak tahu, sebagian karena ikut-ikutan, sebagian karena lupa. Walaupun begitu, tetap saja semua yang minum harus melakukan pensucian api yang sama.
***
Teguran Malaikat Jibril itu meneguhkan kami dalam langkah-langkah selanjutnya. Dengan kesalahan yang harus dibayar mahal di muka, kami jadi lebih waspada dan lebih tahu batasan yang harus kami jaga ketika menjalankan amanah Allah untuk menyampaikan peringatan kepada para dukun itu.
Bagiku, kesediaanku menerima uang yang merupakan kesalahan di mata Tuhan adalah bagian dari pergulatan mempraktekkan apa-apa yang selama ini kuketahui. Di dalam lubuk hati aku merasa tahu bahwa aku sebenarnya tak boleh menerima uang itu. Tetapi di dalam tataran praktis, aku berhadapan dengan orang yang menerima kami dengan baik dan ingin berbuat baik kepada kami. Keadaan di lapangan itu memberikan tekanan sosial tentang bagaimana harus melakukan penyikapan yang benar. Dan ternyata aku melakukan kesalahan karena memilih untuk berpegang pada tata krama daripada berpegang pada prinsip yang seharusnya kupegang. Alih-alih menerima, seharusnya aku tetap teguh menolak dan belajar menyampaikan penolakan itu dengan cara sebaik-baiknya.
(Kutipan dari buku “Gerakan Suci Jibril”, catatan perjalanan Kaum Eden-Salamullah tahun 2003 ketika menyampaikan pesan dan peringatan Tuhan tentang ketauhidan dengan cara mendatangi tempat praktek paranormal dan kyai-kyai yang mengajarkan ilmu mistik dan kanuragan, serta media massa baik cetak maupun elektronik. Perjalanan dilakukan mulai Banten di ujung barat Jawa hingga Banyuwangi di ujung timur Jawa.)
DIarsipkan di bawah: Perjalanan, buku, eden, gsj, religi | Ditandai: 2003, gerakan suci jibril, Perjalanan, religi, salamullah