• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

GSJ (3): Awal Perjalanan, Perjalanan Pertama

Hari Selasa (9 September 2003), aku menerima SMS dari Satya yang ada di Pandaan. Melalui SMS itu Satya menceritakan bahwa dia bersama rombongan sedang bergerak menuju Surabaya untuk mendatangi para dukun. Perjalanan itu adalah yang pertama kali dan aku menunggu dengan hati berdebar apa yang mereka alami hari itu. Sore harinya aku mengirim SMS ke Mas Agus Susilo menanyakan hasil yang mereka peroleh hari itu.

“Semua berjalan lancar,” jawab Mas Agus melalui SMS. Alhamdulillah, kekhawatiran yang sempat muncul dalam hatiku sirna. Mas Agus menyatakan bahwa hari itu mereka dapat menyelesaikan kunjungan ke tujuh paranormal di Surabaya.

Hari Kamis (10 September 2003) adalah perjalanan pertama kami yang di Jakarta. Alhamdulillah banyak teman yang datang. Sementara itu, alamat dukun yang terkumpul sampai hari itu berjumlah sekitar 50. Wow, lumayan banyak juga…

Langkah pertama senantiasa mendebarkan. Kami harus mengalahkan keengganan dan kekhawatiran diri kami untuk melangkah. Bukan apa-apa, kami ini hanyalah manusia biasa. Kami bukanlah kumpulan para jagoan yang tak mengenal rasa takut. Kami pun tak mempunyai ilmu atau kemampuan kanuragan sebagaimana para dukun yang akan kami datangi.

Kalau tak meyakini bahwa Allah memerintahkan kami untuk mengingatkan para dukun itu, rasanya kami lebih suka tak berurusan dengan para dukun itu sebagaimana sikap yang diambil oleh masyarakat banyak. Tapi karena ada perintah Allah melalui rasul-Nya Malaikat Jibril-Ruhul Kudus, maka kami pun berdoa agar Allah meneguhkan kami di dalam menjalankan amanah-Nya ini. Memang, harus ada orang yang berani memulai dan mengingatkan para dukun itu. Kalau tidak, negeri ini akan semakin tenggelam dalam mistik dan kegelapan yang menutupinya.

Sebetulnya harapan itu tersandang di pundak para ulama dan aktivis agama. Tetapi sayangnya prioritas mereka tak berada di sana. Kelihatannya masalah politik dan perjuangan kepentingan lebih menarik dan menyerap energi mereka daripada urusan menjernihkan praktek beragama.

***

Hari Kamis, 10 September 2003, rombongan dibagi menjadi empat kelompok. Setiap kelompok mengendarai satu atau dua mobil untuk mendatangi para dukun.

Pada waktu itu aku mendapat “jatah” surat untuk para dukun sebanyak 11 buah. Dalam pembicaraan bersama teman-teman di kelompokku, kami merencanakan agar juru bicara dalam rombongan bergantian sehingga setiap orang mempunyai pengalaman pribadi berhadapan dengan dukun. Pengalaman itu diperlukan oleh setiap orang karena kami meyakini bahwa mengalami sendiri pergulatan hati berbeda dengan mendengarkan cerita ataupun sekedar mendampingi orang yang berbicara dengan para dukun.

Perjalanan pertama rombonganku mengarah menuju sebuah hotel di Jl. Matraman yang menjadi tempat praktek seorang paranormal. Sesampai di hotel itu, dengan memantapkan hati kami berjalan bersama menuju kamar tempat praktek paranormal itu. Dia tampak kaget melihat rombongan kami yang berpakaian putih-putih mendatangi tempatnya. Awalnya dia tak mau menerima walaupun akhirnya mempersilakan kami untuk masuk ke kamarnya dengan rasa segan.

Pertemuan pertama dengan paranormal ternyata berjalan tak semulus yang kuperkirakan. Paranormal yang pertama kudatangi itu bersungut-sungut menerima kedatangan kami. Apalagi setelah dia membaca surat Imam Mahdi dan fatwa Ruhul Kudus yang sangat keras isinya. Kepada kami, dia yang menyatakan dirinya sebagai seorang sarjana hukum itu, marah-marah dan menganggap kami sebagai gerakan liar yang membagikan selebaran yang tidak jelas tujuannya.

Sementara dia terus marah dan bersungut-sungut, istrinya yang juga paranormal yang mengiklankan diri berusaha menenangkannya. Menanggapi keadaan itu kami pun berusaha untuk tidak gentar ataupun terpancing emosi. Ketika kami minta ijin untuk berdoa bersama yang ditolaknya, kami pun mohon diri dan berpamitan. Kami kemudian berdoa bersama di depan pintu lift yang membawa kami turun untuk melanjutkan perjalanan.

Sementara kami beranjak pulang, istri paranormal itu memberikan air dalam kemasan kepada kami dan memaksa kami untuk membawanya. Walaupun sudah berusaha kami tolak, tetapi dia terus memaksakan sambil menyatakan bahwa air-air tersebut sudah dibacakan ‘asma (doa-doa) oleh paranormal itu. Akhirnya air itu terpaksa kami bawa walaupun kemudian kami tinggalkan di tempat parkir.

Awal yang tak terduga itu membuat kami semua terjaga. Kemarahan paranormal itu membuat kami tersadar bahwa kami tidak sedang bermain-main atau berjalan-jalan biasa. Kami harus menjaga keterhubungan kami dengan Tuhan agar Tuhan pun menurunkan penjagaan-Nya kepada kami.

***

Setelah melewati perjumpaan pertama dengan paranormal yang mengagetkan itu, kami melanjutkan perjalanan untuk menemui paranormal lainnya. Alhamdulillah, setelah itu tak ada kejutan kemarahan yang lain. Kendala yang sering menghadang hanyalah kesulitan untuk menemukan alamat paranormal yang hendak kami datangi karena seringkali tempatnya berada di jalan-jalan yang sempit diantara perumahan yang padat.

Dalam perjalanan Gerakan Suci Jibril yang kami jalani ini, di dalam rombonganku sudah ada kesadaran bahwa kami tak akan minum atau makan hidangan yang disajikan oleh paranormal yang kami datangi. Tetapi selain orang dewasa, dalam rombonganku ada dua anak balita –Surga dan Yudhistira– yang tentu saja belum mengerti aturan itu. Ternyata tak mudah menjaga anak-anak. Di sebuah tempat paranormal, ternyata Surga makan kue dan minum minuman yang disajikan. Sebagai akibatnya, setelah meninggalkan tempat itu Surga mulai rewel. Dia menangis meronta-ronta dan berulang kali menyatakan minta kembali ke tempat yang baru saja didatangi. Keadaan itu tentu saja membuat Ria-ibunya kewalahan. Alhamdulillah, setelah sempat diterapi dengan memijat pusarnya, Surga kemudian menjadi tenang dan tertidur lelap selama perjalanan. Kejadian itu terus terang aneh tapi nyata dan memang demikianlah kejadiannya.

Satu kejadian yang menarik lagi dalam perjalanan pertama hari itu adalah ketika rombongan kami sampai di tempat salah satu paranormal di daerah Tebet. Sampai di sana, ternyata paranormal itu sedang sibuk menerima pasien. Ketika aku menanyakan kepada asistennya berapa lama lagi kami dapat bertemu, asistennya menyatakan bahwa bosnya itu harus melakukan ritual dulu. Dan karena tidak dapat menunggu lama, kami berinisiatif menyampaikan pesan Malaikat Jibril itu kepada asistennya, menyerahkan surat, dan kemudian berdoa bersamanya. Tetapi baru saja kami selesai berdoa bersamanya, paranormal itu keluar dari kamarnya dan meminta kami masuk ke dalam kamarnya.

Di dalam kamar yang temaram, dipenuhi aneka benda pusaka dan menyeramkan itu kami semua duduk di bawah. Kepadanya, kami sampaikan pesan dari Ruhul Kudus tentang ketauhidan dan peringatan kemusyrikan dari Tuhan. Awalnya aku sedikit was-was membayangkan reaksinya. Tetapi ternyata dia bersikap baik. Bahkan dia menganggap bahwa apa yang kami lakukan itu sama dengan kegiatan “nglakoni” yang dilakukannya pada waktu dia muda dulu.

Dengan anggapan semacam itu, dia kemudian mengembalikan amplop surat yang kami berikan setelah diisinya dengan uang yang diambil dari bawah bantal. Tentu saja kami tak mau menerima. Tetapi dia terus memaksa kami menerimanya. Di dalam kebimbangan, aku kemudian menerima uang itu yang ternyata berisi uang Rp 500 ribu.

***

Alhamdulillah, hari pertama itu rombonganku dapat menyelesaikan 9 surat untuk  paranormal. Menjelang ‘Isya rombongan kami sampai di Mahoni (sekretariat) dan menunggu rombongan lain datang. Selepas sholat syukur, kami kemudian sharing menceritakan pengalaman hari pertama yang berhasil menyelesaikan kunjungan pada 31 paranormal.

Lumayan banyak juga …

(Kutipan dari buku “Gerakan Suci Jibril”, catatan perjalanan Kaum Eden-Salamullah tahun 2003 ketika menyampaikan pesan dan peringatan Tuhan tentang ketauhidan dengan cara mendatangi tempat praktek paranormal dan kyai-kyai yang mengajarkan ilmu mistik dan kanuragan, serta media massa baik cetak maupun elektronik. Perjalanan dilakukan mulai Banten di ujung barat Jawa hingga Banyuwangi di ujung timur Jawa.)

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.