Dari perjalanan ke majalah Sabili, rombongan Kaum Eden diberi beberapa edisi majalah Sabili. Salah satu yang mengejutkan bagi kami semua adalah salah edisi Sabili yang berjudul “Jin Salibis Murtadkan Umat” yang terbit pada 5 Juni 2003.
Di dalam edisi itu, Sabili mengangkat isu beberapa muslimah yang kesurupan jin. Ketika jin itu hendak diusir oleh seorang ustadz yang dianggap mempunyai kemampuan mengusir jin, jin itu menyatakan dirinya sebagai jin Kristen. Selanjutnya, jin itu menyebutkan nama orang Kristen yang menyuruhnya.
Berdasarkan pernyataan jin itu, Sabili membuat reportase dan mengambil kesimpulan tentang pemurtadan umat Islam yang dilakukan oleh umat Kristen dengan media jin. Bahkan dalam majalah itu ada wawancara dengan seorang ustadz yang disebutkan sebagai Pakar Jinologi yang diangkat dengan judul “Semua Pendeta Golongan Hitam”.
Reportase Sabili itu –menurutku– sangat mengkhawatirkan karena mendasarkan penulisannya berdasarkan pengakuan jin sebagai amunisi permusuhannya dengan umat Kristen padahal Sabili menyatakan dirinya sebagai suara Tuhan (Islam). Di sini dapat terlihat betapa jin dan iblis memanfaatkan bibit kebencian dan kemarahan yang telah ada dalam hati para reporter Sabili. Dengan sedikit pengakuan dari jin, kebencian dan kemarahan itu terlontar dan berhamburan. Dan kebencian itu kemudian terlihat membabi buta melalui kutipan judul wawancara bahwa semua pendeta adalah golongan hitam.
Jurnalisme yang tak berhati-hati itu jelas bertentangan dengan spirit Al Quran yang mereka yakini sebagai firman Allah yang mereka perjuangkan.
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi yang adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Maidah 5:8)
Bukan itu saja, penulisan wawancara dengan Ustadz Abu Aqila yang disebutkannya sebagai Pakar Jinologi itu terlihat semena-mena dan provokatif. Tanpa mengabaikan fakta bahwa ada pendeta-pendeta yang fanatik dan ekstrem, penggeneralisiran semua pendeta sebagai golongan hitam adalah pengingkaran terhadap kitab suci Al Quran.
“Mereka itu tidak sama; Diantara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari sedang mereka juga bersujud. Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir dan menyuruh kebaikan (ma’ruf) dan mencegah keburukan (munkar) dan bersegera mengerjakan pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.” (QS Ali Imron 3:113-114)
Memang, bertindak adil dan menahan diri jauh lebih sulit daripada sekedar melampiaskan kebencian dan kemarahan. Orang lebih suka memprovokasi dan menurutkan kemarahan daripada mengelola dan menurunkan kemarahan. Masalahnya, menegakkan keadilan dan menahan diri adalah ajaran Tuhan yang sesungguhnya.
***
Dalam soal-soal pemberitaan semacam Sabili itu, Malaikat Jibril sangat keras sekali. Malaikat Jibril menyatakan kemarahan Tuhan atas perilaku para aktivis yang memperjuangkan kejayaan-Nya, tetapi yang dilakukannya sebenarnya adalah merusak ajaran Tuhan. Dan orang-orang semacam itu biasanya sangat keras kepala dan keras hati serta tak pernah mau berendah hati.
Mendapati teguran-teguran Jibril itu, tak urung aku ikut bersedih. Sebagai mantan aktivis Islam, aku tak dapat menafikan keterikatan hatiku pada perjuangan Islam. Tetapi melihat bahaya dari perilaku sebagian aktivis terhadap ajaran Allah (Islam) dan perpecahan di masyarakat, aku juga tak dapat memungkiri kemarahan Allah dan Malaikat Jibril. Bahaya terbesar dari pemberitaan kebencian dan kemarahan dari media massa semacam Sabili itu adalah pandangan masyarakat bahwa ajaran Allah (Islam) memang mengajarkan kebencian dan kemarahan semacam itu. Lalu, orang kemudian menjadi antipati bukan hanya kepada Islam, tetapi juga kepada Allah yang menurunkan ajaran itu.
Tetapi, kelompok garis keras semacam Sabili itu tak mau menerima teguran Jibril itu. Tuduhan yang sering dilontarkan kepada Salamullah dan Jibril adalah kamuflase Kristenisasi dan pendangkalan akidah umat Islam. Tapi sesungguhnya tuduhan itu sama sekali tak mengena karena Jibril senantiasa membawakan keadilan Tuhan.
Peringatan Jibril bukan hanya ditujukan kepada aktivis Islam garis keras, tapi pada setiap kesalahan di mana pun berada. Jibril menyampaikan teguran Tuhan terhadap kemusyrikan para dukun dan ulama yang bersekutu dengan jin, Jibril menyampaikan teguran Tuhan terhadap premanisme politik dan para pemimpin yang menjadi pemicu perpecahan bangsa, Jibril menegurkan umat Kristen yang tak memurnikan keesaan Tuhan di dalam teologi Trinitasnya, Jibril pun menegurkan bangsa Amerika sebagai bangsa yang sombong dan akan dilucuti Tuhan kesombongannya.
Sebaik keadilan yang selalu berada di dalam penghakiman Tuhan, Jibril menunjukkan bahwa Tuhan tak menggeneralisir kesalahan umat Islam. Jibril menunjuk sosok muslim yang pengajarannya disukai Tuhan yaitu Abdullah Gymnastiar (selain sosok Imam Mahdi Muhammad Abdul Rahman). Pengajaran Aa Gym itu oleh Jibril dinyatakan selaras dengan misi yang dibawanya yaitu membawa umat manusia pada kejernihan tauhid dan kelapangan hati dalam beragama.
(Kutipan dari buku “Gerakan Suci Jibril”, catatan perjalanan Kaum Eden-Salamullah tahun 2003 ketika menyampaikan pesan dan peringatan Tuhan tentang ketauhidan dengan cara mendatangi tempat praktek paranormal dan kyai-kyai yang mengajarkan ilmu mistik dan kanuragan, serta media massa baik cetak maupun elektronik. Perjalanan dilakukan mulai Banten di ujung barat Jawa hingga Banyuwangi di ujung timur Jawa.)
DIarsipkan di bawah: Perjalanan, buku, eden, gsj, religi | Ditandai: 2003, gerakan suci jibril, Perjalanan, religi, salamullah