Di daerah Semarang, rombongan Mas Rahman mendapat informasi bahwa para dukun sedang berkumpul di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan akan melakukan parade paranormal di sana. Paranormal yang didatangi rombongan Eden di Semarang itu adalah salah satu peserta dari acara di TMII. Informasi itu kemudian disampaikan oleh Mas Rahman ketika sampai di Pandaan seusai perjalanan di Jawa Tengah. Berdasarkan informasi itu, Ayah memerintahkan kami untuk mencari informasinya lebih jelas. Dan kami diminta untuk mendatangi para dukun di TMII sebagai penutup dari rangkaian kegiatan Gerakan Suci Jibril tahap pertama.
Lalu ditelponlah Satya dan Feri yang berada di Jakarta untuk mencari informasi dan melakukan pengecekan di TMII. Benar saja, dari Jakarta diperoleh kabar bahwa para dukun memang sedang membuka praktek di TMII dan mereka akan mengadakan karnaval pada hari penutupan yaitu hari Minggu 19 Oktober 2003.
Maka, perjalanan dari Pandaan ke Jakarta pun disusun agar sesuai dengan target untuk mendatangi acara para dukun tersebut. Hari Minggu pagi 19 Oktober 2003 sekitar pukul 05.00 rombongan tiba di Jakarta setelah menempuh perjalanan panjang Pandaan-Muntilan-Pekalongan-Jakarta. Tak sempat beristirahat cukup, pagi itu ada sapaan dari Ayah menguatkan perjuangan kami untuk mendatangi para dukun yang sedang berparade tersebut. Lalu, sekitar pukul 09.00 berangkatlah rombongan Kaum Eden menuju TMII dengan tambahan teman-teman yang berada di Jakarta.
***
Menjelang sampai di TMII, aku melihat ada baliho besar terpampang di pinggir jalan berisi informasi tentang acara di anjungan-anjungan di TMII. Terpampang di dalamnya acara Pekan Wira Budaya yang diadakan di Museum Keprajuritan. Sementara itu, di sebelahnya terdapat baliho Pameran Seni Budaya Islam yang juga diselenggarakan di TMII.
Sebelumnya, Mas Rahman mendapat informasi bahwa acara paranormal di TMII itu adalah bagian dari acara Pameran Seni Budaya Islam yang dibuka Wapres Hamzah Haz. Ternyata, informasi yang diperoleh Mas Rahman dari sebuah tabloid mistik itu tidak akurat. Acara para dukun itu memang ada, tetapi bukan merupakan bagian dari Pameran Seni Budaya Islam. Acara itu adanya di Museum Keprajuritan dengan judul Pekan Wira Budaya. Aku tidak tahu apakah informasi yang disampaikan kepada Mas Rahman itu adalah sebuah kecerobohan atau memang kesengajaan para dukun agar acaranya mendapatkan legitimasi.
Sesampai di Museum Keprajuritan, rombongan dibagi dalam dua kelompok besar. Satu kelompok menyanyikan kidung-kidung langit sementara kelompok lainnya menyampaikan pesan kepada para dukun. Kelompok yang menyampaikan pesan kepada para dukun itu dibagi-bagi lagi dalam kelompok kecil yang dipimpin oleh para ibu-ibu yang gagah berani dan tampil bercahaya di dalam pakaian putih tujuh meternya.
“Orang-orang nekad datang…,” bisik orang-orang melihat sekelompok kaum Eden berpakaian putih mendatangi anjungan pada dukun. Suara-suara itu sempat terdengar oleh kami. Mereka mungkin heran melihat kenekadan kaum Eden mendatangi para dukun yang sedang berparade dan membuka prakteknya rame-rame. Atau, barangkali diantara para dukun itu sudah saling bertelpon satu sama lain setelah kurang lebih 250 dukun kami datangi satu persatu.
Salah satu tujuan utama di Museum Keprajuritan itu sebenarnya adalah seorang paranormal yang menyatakan diri sebagai ketua Ikatan Paranormal Indonesia dan mencalonkan dirinya sebagai presiden Republik Indonesia. Tetapi karena paranormal tersebut tidak ada di tempat, pesan dari Malaikat Jibril kemudian disampaikan kepada penasihat spiritualnya yang bernama Mbah Singo Loreng.
***
Di salah satu tempat praktek paranormal di Museum Keprajuritan, rombongan Mbak Titing sempat disambut oleh beberapa paranormal yang menemui bersama-sama dan langsung mempraktekkan ilmunya. Di hadapan Mbak Titing, mulut paranormal itu komat-kamit merapal ilmunya, tangannya bergerak-gerak dan dupa pun dibakar. Sementara itu Mbak Titing hanya diam saja sembari mengamati para paranormal itu mempraktekkan ilmunya.
“Subhanallah,“ hanya kalimat itu yang terlontar secara spontan dari lisan Mbak Titing menjawab komentar paranormal itu usai mempraktekkan ilmunya.
“Sungguh, “kata Mbak Titing. “Kalau bukan karena bersama Allah, kita pasti sudah habis ketika mendatangi dukun-dukun itu dan memberikan peringatan yang keras tentang tauhid itu.”
Sebagai penutup, rombongan Gerakan Suci Jibril kemudian mendatangi pengelola Taman Mini untuk menyampaikan pesan agar Taman Mini tidak memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang membawa masyarakat pada kemusyrikan.
Di depan gedung pengelola Taman Mini, kami menutup rangkaian Gerakan Suci Jibril tahap yang pertama.
(Kutipan dari buku “Gerakan Suci Jibril”, catatan perjalanan Kaum Eden-Salamullah tahun 2003 ketika menyampaikan pesan dan peringatan Tuhan tentang ketauhidan dengan cara mendatangi tempat praktek paranormal dan kyai-kyai yang mengajarkan ilmu mistik dan kanuragan, serta media massa baik cetak maupun elektronik. Perjalanan dilakukan mulai Banten di ujung barat Jawa hingga Banyuwangi di ujung timur Jawa.)
DIarsipkan di bawah: Perjalanan, buku, eden, gsj, religi | Ditandai: 2003, gerakan suci jibril, Perjalanan, religi, salamullah
[...] Itulah nasihat Malaikat Jibril menjelang kami akan mendatangi para dukun yang sedang berpameran dan hendak melakukan karnaval di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Dalam kondisi tubuh yang amat lelah setelah perjalanan dari Jawa dan baru sampai di Jakarta pada pukul lima pagi, sekitar pukul sembilan kami sudah harus berangkat menuju TMII untuk menemui para dukun guna menyampaikan peringatan Allah tentang masalah kemusyrikan sebelum mereka melakukan karnaval. (lihat: PARADE DUKUN) [...]