• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

GSJ (19): Kejutan Perjalanan, Kyai dari Langit

Seorang Satpam berkata kepada Mas Agus Susilo di kantornya, “Pak, ada tamunya di luar.”

“Tamu dari mana?”

“Tidak tahu, Pak. Tamu itu minta dijemput Bapak di mobil,” kata Satpam itu dengan nada ragu.

“Kamu ini bagaimana? Ada tamu kok nggak tahu darimana asalnya. Saya kan mau menerima tamu saya,” kata Mas Agus yang sedang bersiap menerima kedatangan Kaum Eden di kantornya. Pada saat itu, satu demi satu rombongan Kaum Eden sudah mulai berdatangan. Aku sendiri melihat ada satu mobil yang kelihatan menunggu di depan pintu kantor dan di dalamnya terlihat sosok laki-laki tua mengenakan atribut ulama yaitu baju gamis, sorban, dan peci.

Hatiku sempat berdesir melihatnya karena waktu kedatangannya bersamaan dengan kedatangan rombongan kami. Terus terang, pengalaman buruk berurusan dengan ulama sejak Fatwa MUI yang menganggap kami sesat hingga pengusiran-pengusiran yang kami alami tak mudah untuk kami tepis.

Sementara itu, Mas Agus pun rupanya sedang panik karena mendapat tamu mendadak yang tak disangkanya. Apalagi tamu itu tidak mau turun dari mobilnya kecuali dijemput sendiri olehnya. Seorang karyawan yang menjemputnya bahkan disuruhnya kembali. “Kamu bukan orang baik,” kata tamu asing yang berperawakan Arab tersebut.

Mendapat pertanyaan yang sangat wajar dari bosnya tentang identitas tamu tersebut, akhirnya Satpam itu dengan takut-takut menjawab.

“Katanya dari langit, Pak…” katanya pelahan.

“Weleh, apa lagi ini…” kata Mas Agus dalam hati. Mas Agus sedikit panik karena rombongan kaum Eden sudah datang dan backdrop “Selamat Datang Malaikat Jibril, Selamat Datang Kaum Eden” terpampang jelas di ruang pertemuan.

Karena tidak mempunyai banyak pilihan, akhirnya Mas Agus keluar ruangan menjemput tamu asing yang aneh tersebut. Di mobilnya –kata Mas Agus– selain dipenuhi dengan atribut-atribut Arab, mobil itu juga dipenuhi dengan bunga. Kakek-kakek bersorban tersebut akhirnya minta dituntun untuk masuk ke ruang kerja Mas Agus. Di ruang tamu yang berdekatan dengan tempat kami berkumpul, tamu tersebut sempat berhenti memperhatikan kami dan setelah mengucapkan salam berkata-kata dengan lantang,”Al Fatihah…”

Menurut cerita Mas Agus, tamu tersebut hanya mau ditemui Mas Agus dan tak mau ada orang lain di dalam ruangan itu. Seorang karyawan yang diminta Mas Agus untuk menemaninya oleh tamu tersebut diminta keluar.

“Waduh, saya itu betul-betul bingung nggak tahu siapa dia dan apa maunya,” cerita Mas Agus kepada kami semua setelah tamu itu pulang.

“Saya persilakan duduk, dia tidak mau duduk di kursi. Dia malah memilih duduk di lantai. Walah, saya kan jadi repot. Akhirnya saya ikut duduk di lantai. Moso’ saya duduk di kursi sementara dia yang jauh lebih tua duduk di lantai…”

“Waktu saya tanya dari mana beliau mendapatkan nama saya, eh.. dia menjawab dari Allah. Saya kan tambah bingung,” tambah Mas Agus yang hanya dapat kami timpali dengan tertawa berderai sambil membayangkan kejadian yang pasti aneh itu.

“Keanehannya itu belum selesai,” kata Mas Agus. “Selama pertemuan itu dia tidak ngomong apa-apa selain memuji-muji saya. Nggak jelas apa maunya, tapi dia terus memuji-muji saya dari awal sampai akhir. Nah, saya ini kan yang jadi jengah mendengarnya…”

“Setelahnya begitu saja. Dia minta pamit dan kepada para karyawannya yang sedang berkumpul di luar dia mengumumkan dengan lantang bahwa saya adalah orang baik dan mereka (para karyawan) harus bersyukur karena mendapat pimpinan orang baik. Lalu dia memerintahkan para karyawan saya untuk mencium tangan saya…”

“Saya kaget mendengar perintah itu dan mengatakan kepadanya bahwa saya bukan kyai, tapi dijawabnya lagi bahwa ‘Pak Agus ini lebih dari kyai’. Untunglah saya masih sempat menarik tangan saya…”

“Wah, nggak ada yang cium tangan Mas Agus, donk..?” aku mencandainya.

“Nggak tahu, ya. Kayaknya tadi sempat ada dua orang yang mencium tangan saya. Siapa ya, tadi…” lanjut Mas Agus diantara derai tawa kami mendengar ceritanya.

Cerita Mas Agus itu benar-benar menjadi anti-klimaks ketegangan akibat tamu tak diundang yang menyatakan dirinya berasal dari langit dan memaksa masuk lingkungan pabrik hanya sekedar untuk menemui Mas Agus.

***

Kedatangan rombongan Kaum Eden ke lokasi pabrik tempat Mas Agus bekerja adalah sebuah ujian berat bagi Mas Agus. Bukan hanya karena atribut kami berupa pakaian putih tujuh meter yang tak umum dipandang, keyakinan kami tentang Malaikat Jibril masih dianggap sesat oleh para ulama.

Oleh karena itu, untuk memenuhi permintaan Bunda agar Mas Agus mengadakan acara perpisahan dengan karyawan kantornya bukan sebuah hal yang ringan. Urusan keyakinan adalah hal yang sensitif dan cenderung ditabukan untuk dibicarakan secara resmi di kantor. Sikap umum yang dibangun di dunia kerja adalah menjadikan dunia kerja steril dari urusan keyakinan karena masalah keyakinan adalah masalah pribadi yang dikhawatirkan dapat memicu konflik kalau dibawa ke wilayah pekerjaan. Walaupun Mas Agus adalah kepala pabrik, beliau tidak dapat dengan sesukanya menggelar acara di kantor yang mungkin dapat menimbulkan gesekan bagi para karyawan pabrik yang berjumlah tak kurang dari 300 orang.
Oleh karena itu, aku dapat membayangkan kegamangan Mas Agus untuk memenuhi permintaan Bunda walaupun tentu saja Bunda berniat baik, untuk mendoakan pabrik tempat Mas Agus bekerja dan membalas kebaikan karyawan Mas Agus atas penerimaannya yang baik selama kami ada di Pandaan.

Dalam kegamangan yang membuat Mas Agus tak berani langsung mengiyakan permintaan Bunda, Mas Agus kemudian membicarakan hal itu dengan teman-teman kerjanya. Dan kemudian diputuskanlah untuk mengadakan acara doa di pabrik pada hari Selasa, 14 Oktober 2003 diantara pergantian shift siang.

Lalu diadakanlah acara untuk Kaum Eden yang berisi doa di pabrik, mempresentasikan perjalanan mengingatkan bangsa tentang kemusyrikan, kidung langit, dan mengajari para karyawan untuk mengobati. Dan setelah insiden kecil dengan tamu yang tak diundang sebagaimana di atas, kami berdoa bersama di pabrik ketika terjadi pergantian shift kerja bersama semua karyawan shift pagi yang baru selesai bekerja dan karyawan shift kedua yang bersiap untuk bekerja.

Setelahnya baru kami mengadakan acara bersama di ruang pertemuan bersama sekitar 20 staf yang ada di kantor. Acara bersama itu berakhir sekitar pukul 17.00 dan ditutup dengan doa serta lagu “Indonesia Tanah Air Beta”.

***

Sebelum acara di kantor Mas Agus, kami sempat mengadakan acara pamitan sekaligus pengajaran pengobatan kepada masyarakat yang ada di sekitar rumah. Kami sebenarnya tak pernah menjadwalkan pelayanan pengobatan kepada masyarakat dalam rangkaian perjalanan yang berat ini. Pelayanan pengobatan kepada masyarakat yang kami lakukan berawal dari kabar dari mulut ke mulut melalui Pak Mat –penjaga rumah di Pandaan yang tinggal di dekat situ– tentang pengobatan yang dapat dilakukan oleh Kaum Eden. Dari informasi Pak Mat itu kemudian satu demi satu keluarga dan tetangganya datang berobat ke rumah Mas Agus.

Kedatangan para tetangga untuk berobat itu menyejukkan hati kami. Kerelaan mereka untuk datang menunjukkan bahwa mereka tak mempunyai masalah dengan kami, walaupun mereka tentunya sudah mendengar berita-berita tentang keyakinan kami terhadap Malaikat Jibril dan kegiatan kami yang selalu mengenakan pakaian putih-putih mendatangi para dukun. Keadaan itu berbeda dengan tempat-tempat tinggal kami sebelumnya yang sering menunjukkan sikap tak bersahabat sebagaimana pengusiran yang kami terima sewaktu tinggal di Jatiwaringin-Pondok Gede maupun penghancuran rumah ketika kami tinggal di Coblong-Megamendung.

Menyambut kelapangan penduduk Pandaan, Bunda pun kemudian mengadakan acara pamitan sekaligus terima kasih kepada penduduk sekitar rumah. Acara yang dihadiri tak kurang dari 100 orang, termasuk aparat kepolisian yang juga diundang untuk hadir itu berisi presentasi kegiatan kami mendatangi para dukun sekaligus mengingatkan masyarakat umum untuk tak terlibat dalam kemusyrikan. Diantara kegembiraan masyarakat yang hadir mendengarkan kidung-kidung langit yang dibawakan pada saat itu, beberapa teman mengobati masyarakat serta mengajarkan kepada mereka metode pengobatan yang selama ini kami lakukan.

***

Sementara acara pamitan kepada masyarakat dan di kantor berlangsung baik dalam pandangan kami, ternyata pandangan para pemimpin di perusahaan Mas Agus tidak demikian. Mereka mendapat kabar entah dari siapa bahwa kegiatan yang kami adakan meresahkan masyarakat Pandaan. Setelah acara doa dan perpisahan di pabrik, bahkan beredar isu bahwa masyarakat mau melakukan istighotsah tandingan di pabrik dan rumah Mas Agus sudah dicari-cari oleh kelompok Islam garis keras di Malang yang biasa melakukan perusakan di tempat-tempat maksiat.

Mendapati kabar itu, perusahaan tak mau mengambil resiko apapun, baik resiko keselamatan Mas Agus dan keluarga maupun keselamatan pabrik. Dalam rapat di Jakarta, kemudian diputuskan bahwa Mas Agus tak lagi menjabat kepala pabrik di Pandaan dan ditarik kembali ke Jakarta.

Kabar tentang pemberhentian Mas Agus sebagai kepala pabrik itu mengejutkan kami semua. Walaupun kami selalu bersiap terhadap konsekuensi apapun terhadap iman yang kami yakini, berita itu tetap saja menyedihkan bagi kami.

Tentu saja semua yang terjadi ini menjadi ujian yang berat bagi keluarga Mas Agus. Tapi tak sedikit pun keluar keluhan yang terdengar di telinga kami atas rentetan kejadian yang menimpa Mas Agus ini. Kepadaku, Mas Agus hanya menceritakan bahwa setelah kembali ke Pandaan, dia tak mendengar kabar buruk apapun baik dari penjaga rumah, pamong tempat tinggalnya, maupun para karyawan pabrik tempatnya bekerja. Tapi desas desus memang sulit untuk dibuktikan dan perusahaan tempatnya bekerja sudah mengambil keputusan untuk menariknya kembali ke Jakarta.

Tak mudah memang untuk menjalankan kesetiaan kepada Tuhan dengan cara yang sesuai dikehendaki-Nya. Jauh lebih mudah untuk menggunakan rasio dan bertuhan sesuai dengan apa-apa yang kita anggap kebenaran.

(Kutipan dari buku “Gerakan Suci Jibril”, catatan perjalanan Kaum Eden-Salamullah tahun 2003 ketika menyampaikan pesan dan peringatan Tuhan tentang ketauhidan dengan cara mendatangi tempat praktek paranormal dan kyai-kyai yang mengajarkan ilmu mistik dan kanuragan, serta media massa baik cetak maupun elektronik. Perjalanan dilakukan mulai Banten di ujung barat Jawa hingga Banyuwangi di ujung timur Jawa.)

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.