• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

GSJ (1) : Pengantar

“Ketika kalian mengingatkan para dukun tentang masalah kemusyrikan,
masyarakat mengira kalian sedang berhadapan
dengan tembok yang tebal dan tinggi
yang tak dapat ditembus.
Tetapi sesungguhnya yang akan kalian lakukan adalah
seumpama memotong cake (kue) dengan pisauku.”

Itulah nasihat Malaikat Jibril menjelang kami akan mendatangi para dukun yang sedang berpameran dan hendak melakukan karnaval di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Dalam kondisi tubuh yang amat lelah setelah perjalanan dari Jawa dan baru sampai di Jakarta pada pukul lima pagi, sekitar pukul sembilan kami sudah harus berangkat menuju TMII untuk menemui para dukun guna menyampaikan peringatan Allah tentang masalah kemusyrikan sebelum mereka melakukan karnaval. (lihat: PARADE DUKUN)

Mendapat pesan itu, aku teringat nasihat Tuhan di dalam Al Quran yang mengibaratkan kaum musyrik dengan sarang laba-laba. Kelihatannya rapi dan kuat, tetapi sesungguhnya sarang laba-laba adalah sarang yang lemah dan sangat mudah koyak (QS Al Ankabut 29:41).

Kegiatan mendatangi para dukun untuk mengingatkan tentang kemusyrikan bangsa Indonesia adalah sebuah rangkaian kegiatan Kaum Eden sebagaimana diperintahkan oleh Malaikat Jibril. Kaum Eden adalah komunitas spiritual lintas agama yang anggotanya terdiri dari bermacam-macam latar belakang agama/spiritual. Cikal bakal Kaum Eden adalah Salamullah yang merupakan komunitas berlatar belakang Islam dan saat ini menjadi salah satu komponen dari Kaum Eden. Satu hal yang menyatukan anggota Kaum Eden yang mempunyai latar belakang yang berbeda-beda adalah keyakinan bahwa pada saat ini Tuhan sedang mengutus Malaikat Jibril-Ruhul Kudus menjadi rasul-Nya untuk umat manusia. Sementara Salamullah dipimpin oleh Imam Mahdi Muhammad Abdul Rahman, Kaum Eden dipimpin oleh Bunda Lia Eden yang dulu dikenal dengan nama Lia Aminuddin. Bunda Lia adalah media utama yang menjadi penyampai pengajaran Tuhan yang dibawakan oleh Malaikat Jibril-Ruhul Kudus.

***

Ada dua pesan besar yang saat ini sedang dibawakan oleh Malaikat Jibril kepada umat manusia. Dua pesan itu menjadi akar dari seluruh pengajaran, kegiatan dan fatwa-fatwa yang disampaikan oleh Malaikat Jibril. Pesan yang pertama adalah mengesakan Tuhan (Tauhid). Pesan yang kedua adalah perdamaian dan persaudaraan antar umat melintasi sekat-sekat perbedaan yang ada.

Perintah untuk mengadakan kegiatan Gerakan Suci Jibril disampaikan melalui Bunda Lia di Pandaan, Jawa Timur pada akhir Agustus 2003. Pada waktu itu Bunda Lia sedang berada Pandaan karena kami sedang melakukan lawatan keliling Jawa dan Bali sejak tanggal 27 Juli 2003. Dalam lawatan itu kami mengunjungi makam-makam para wali dan tempat kemusyrikan. Kami juga mendatangi pengadilan terdakwa bom Bali untuk menyampaikan fatwa Jibril serta mengunjungi pesantren-pesantren antara lain: PP Al Mukmin-Ngruki, PP Langitan-Tuban, PP Tebuireng-Jombang, PP Buntet-Cirebon, dan PP Ihya As Sunnah pimpinan Ja’far Umar Thalib di Kaliurang. Catatan selengkapnya tentang perjalanan itu dapat disimak dalam buku “Lawatan Duta Cahaya”.

Tak lama setelah perintah untuk mengadakan Gerakan Suci Jibril, aku dan beberapa teman meninggalkan Pandaan karena kami harus menyelesaikan lawatan ke pesantren-pesantren hingga menyaksikan fenomena penampakan planet Mars di Observatorium Bosscha, Bandung. Sementara itu, teman-teman di Pandaan menyiapkan perangkat untuk kegiatan, diantaranya adalah mencetak kop surat dan amplop Gerakan Suci Jibril.

Mengenai pencetakan kop surat dan amplop itu ada sebuah cerita “lucu” yang diceritakan Bunda. Ceritanya, pencetakan kertas kop dan amplop itu dilakukan di sebuah percetakan di Malang. Terus, ternyata tinta yang digunakan untuk mencetak itu tak kunjung kering. Keadaan ini tentu saja mengherankan pengelola percetakan karena hal itu tak pernah terjadi sebelumnya. Bagi kami, hal itu juga berarti pengunduran jadwal karena kami baru bisa memulai Gerakan Suci Jibril setelah perlengkapan selesai. Baru setelah kepada pengelola itu disampaikan bahwa yang sedang dicetaknya adalah berkaitan dengan urusan Tuhan dan kepadanya disarankan untuk melakukan sholat Taubat, atas ijin Tuhan tinta itu kering dan urusan cetak mencetak kop surat dan amplop dapat selesai. Percaya tidak percaya, hal-hal “ajaib” semacam itu bukan sekali dua kali kami alami dalam menjalankan amanah Allah selama ini.

Sesampai di Jakarta, kami segera melakukan koordinasi dengan teman-teman yang ada di Jakarta. Pada pertemuan hari Sabtu (6 September 2003), kami membicarakan teknis Gerakan Suci Jibril karena banyak teman-teman di Jakarta yang bekerja. Walaupun belum ada kepastian jadwal dari Pandaan tentang dimulainya Gerakan Suci Jibril, kami memutuskan hari Kamis dan Sabtu sebagai jadwal kegiatan itu.

Sampai saat itu, kami belum tahu mana yang menjadi prioritas Gerakan Suci Jibril karena ada dua sasaran yang hendak dituju, yaitu: media massa dan para dukun. Akhirnya kami menyiapkan dua-duanya; Pak Umar mengumpulkan alamat-alamat para dukun sementara Agus Widiyanto mendata acara-acara yang ada di media massa (televisi).

***

Pada saat Gerakan Suci Jibril dimulai, Bunda dan beberapa teman masih tinggal di Pandaan-Jawa Timur, sementara sebagian teman yang lain ada di Jakarta. Keberadaan yang terpisah itu membuat jangkauan kunjungan kepada para dukun menjadi luas. Teman-teman di Pandaan bertanggung jawab untuk mendatangi para dukun di Jawa Timur, mulai ujung timur di Banyuwangi hingga ujung barat di Madiun. Teman-teman Jakarta bertanggung jawab untuk mendatangi dukun di Jabotabek dan kyai-kyai di Banten. Sementara daerah Jawa Tengah disusuri oleh rombongan kecil yang berisi Imam Mahdi Abdul Rahman, Pak Umar Iskandar, Ibu Ipuk, dan Mbak Titing Sulistami sekaligus merupakan perjalanan panjang dari Jakarta menuju Pandaan.

Selain dijalani melalui rombongan kecil Imam Mahdi Abdul Rahman, daerah Jawa Tengah juga disusuri kembali ketika semua rombongan Kaum Eden dalam perjalanan pulang dari Pandaan menuju Jakarta.

Dokumentasi foto Gerakan Suci Jibril ini dapat disaksikan di situs www.liaeden.info.

***

Akhirnya, semoga catatan perjalanan ini dapat memberikan pencerahan iman dan kebangkitan hati untuk sama-sama mensucikan diri dan membersihkan bangsa kita dari kemusyrikan. Sungguh, hanya kekuatan Allah lah yang menyanggupkan kami untuk menyelesaikan kunjungan kepada para dukun yang jumlahnya tak kurang dari 250 orang di pelbagai tempat di Jawa. Hanya berkat perlindungan Allah pula kami semua selamat dari serangan ilmu-ilmu gaib para dukun sebagai akibat kemarahan sebagian diantara mereka ketika menerima maklumat peringatan Malaikat Jibril.

Jakarta, November 2003

(Kutipan dari buku “Gerakan Suci Jibril”, catatan perjalanan Kaum Eden-Salamullah tahun 2003 ketika menyampaikan pesan dan peringatan Tuhan tentang ketauhidan dengan cara mendatangi tempat praktek paranormal dan kyai-kyai yang mengajarkan ilmu mistik dan kanuragan, serta media massa baik cetak maupun elektronik. Perjalanan dilakukan mulai Banten di ujung barat Jawa hingga Banyuwangi di ujung timur Jawa.)

Satu Tanggapan

  1. [...] SINI. Kalau mau membaca online, materinya sudah aku pecah-pecah per judul, bisa dimulai dari bagian Pengantar. Atau, bisa juga membaca serpihan yang dianggap menarik dengan cara pilih kategori [...]

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.