Tanggal 2 Agustus, selepas perjalanan Gunung Kawi-Blitar-Lirboyo, Syekh mengijinkan kami meneruskan lawatan dan mendatangi makam-makam Walisongo yang ada di sekitar Surabaya. Sabtu pagi itu, kami berangkat menuju Surabaya dengan target menyelesaikan lima makam Walisongo, yaitu Sunan Ampel (Surabaya), Sunan Giri dan Maulana Malik Ibrahim (Gresik), Sunan Drajat (Lamongan) dan Sunan Bonang (Tuban).
Karena tidak ada seorang pun yang menguasai peta perjalanan, rombongan tiga kendaraan berkonvoi menuju Museum Mpu Tantular untuk mencari informasi. Dari sana, rombongan kemudian menuju makam Sunan Ampel. Setelah berputar-putar dan akhirnya mengambil seorang tukang becak untuk menjadi penunjuk arah, rombongan sampai di makam Sunan Ampel di tengah kota Surabaya yang padat. Makam itu terletak di lingkungan pasar yang ramai dan masjid yang banyak dipenuhi oleh anak-anak muda yang belajar di madrasah yang berdekatan dengan lokasi itu. Sesampai di sana, rombongan diterima di ruang tamu sekretariat dan dengan ringkas Imam Mahdi Abdul Rahman menyampaikan pesan-pesan Malaikat Jibril yang sedang kami bawa. Tak berlama-lama di sana, setelah berdoa bersama, rombongan kemudian meluncur menuju makam Sunan Giri di Gresik.
Di makam Sunan Giri, terlihat banyak peziarah yang mengunjungi makam walaupun lokasi makam tak cukup mudah untuk dijangkau. Sekumpulan orang terlihat sedang mengaji dan berdoa bersama-sama di sekitar makam. Sementara peziarah terlihat bergantian menuju makam, rombongan Salamullah langsung mencari pengurus makam dan kemudian menyampaikan pesan. Alhamdulillah, pengurus makam menyambut baik pesan tauhid yang disampaikan Salamullah dan menyatakan bahwa pesan itu bersesuaian dengan misi yayasan. Beliau bercerita bahwa dulu para peziarah suka mengambil pasir makam untuk azimat. Tetapi sekarang makam itu sudah ditegel sehingga perilaku seperti itu tidak dapat dilakukan lagi. Walaupun begitu, beliau menyatakan bahwa tidak mudah untuk mengubah keyakinan dan tradisi yang berlaku di masyarakat sebagaimana yang dilakukan oleh para peziarah.
Fenomena mengaji dan berdoa di makam-makam waliyullah memang telah menjadi tradisi yang umum terjadi. Di makam Maulana Malik Ibrahim, kami pun mendapati sekelompok orang yang mengaji di makam. Bahkan penjaga makam yang menerima rombongan Salamullah sempat menawarkan untuk bertawasul walaupun Imam Mahdi Abdul Rahman sudah menjelaskan bahwa misi kedatangannya adalah menyampaikan pesan Malaikat Jibril kepada pengurus makam wali agar makam-makam waliyullah tidak dikultuskan dan agar menjaga makam dari kegiatan-kegiatan yang mengarah pada kemusyrikan. Mendapati tawaran untuk bertawasul itu, dengan sopan Mas Rahman menyampaikan bahwa Salamullah berdoa langsung kepada Allah dan tidak diperkenankan oleh Malaikat Jibril untuk bertawasul kepada siapapun.
Di makam Sunan Drajat, rombongan sempat menunggu agak lama karena penjaga dan pengurus makam tidak ada di tempat. Di kompleks pemakaman yang kering dan gersang itupun peziarah terlihat terus berdatangan walaupun hari sudah menginjak sore. Pada saat menunggu itu, tiba-tiba aku merasakan keterharuan yang menyergap saat mengamati para peziarah. Belum pernah aku merasakan hal semacam itu selama lawatan-lawatan sebelumnya. Air mataku terasa membayang mengikuti rasa kasihan yang menyesakkan dadaku melihat para peziarah. Kuperhatikan, betapa inginnya mereka (para peziarah itu) mendekatkan diri kepada Tuhan dan betapa sederhananya pemahaman beragama mereka yang tanpa mereka sadari dapat mengakibatkan keterjatuhan pada kemusyrikan. Kepada Arif kuutarakan kegelisahanku itu.
Nilai-nilai apakah yang ada di dalam hidup mereka (masyarakat umum) yang membuat mereka mengekspresikan agama dengan cara berdoa di makam para wali? Apakah mereka merasa tak cukup percaya diri sehingga untuk berdoa kepada Tuhan mereka harus mencari perantara (tawasul) diantaranya melalui wali yang sudah meninggal itu?
Kepadaku, Arif menceritakan kisah pendek betapa para ulama di kampung sering mengibaratkan proses bertuhan sebagaimana birokrasi di dunia. Jikalau untuk bertemu dengan presiden saja membutuhkan birokrasi, apalagi jika ingin bertemu dengan Tuhan. Dalam logika itu, para ulama dan orang salih baik yang hidup maupun yang sudah meninggal adalah perantara atau birokrat yang dapat membantu untuk bertemu Tuhan.
Mendengar cerita itu, dalam hati aku hanya berfikir: mengapa tidak dipakai logika sebaliknya bahwa justru karena Dia adalah Tuhan, maka setiap orang dapat berkomunikasi langsung dengan-Nya dan Dia tak membutuhkan birokrasi yang cenderung korup serta mencari kepentingannya sendiri?
Tapi semua itu cuma pikiranku saja…
***
Setelah menyelesaikan lawatan di makam Sunan Drajat, perjalanan terakhir yang kami kejar pada hari itu adalah lawatan ke makam Sunan Bonang di Tuban. Hari sudah menjelang sore dan kami khawatir terlalu malam sampai di makam Sunan Bonang sehingga tak ada yang dapat menerima kami. Sementara itu, perut kami sudah keroncongan karena belum sempat makan siang. Dengan pertimbangan mengejar waktu, kami melupakan sejenak soal isi perut dan bergegas menuju Tuban.
Pada saat seperti itu, kami teringat acara-acara pengajian Sabtu di Mahoni yang sering membuat jadwal makan siang tertunda sampai sore karena menunggu selesainya pengajaran Syekh. Rupanya, acara-acara Sabtu itu juga menjadi bekal yang membuat tak seorang pun dalam rombongan Lawatan Tauhid yang mengeluhkan soal makan siang yang terlambat.
Alhamdulillah, sekitar Maghrib rombongan sampai di Tuban. Setelah sholat Maghrib di Masjid Agung Tuban, rombongan berjalan menuju makam Sunan Bonang yang ternyata tak sepi walaupun hari telah menjelang malam. Lampu-lampu penerangan menyinari pasar yang berada di sepanjang jalan menuju pemakaman. Areal pemakaman pun masih ramai oleh para peziarah yang datang silih berganti. Bertemu dengan penjaga makam, pesan Malaikat Jibril kemudian disampaikan oleh Imam Mahdi Muhammad Abdul Rahman dan doa pun dipanjatkan. Semoga Allah membersihkan umat Islam dari kemusyrikan dan semoga berkah pertolongan-Nya turun kembali kepada umat Islam dan bangsa Indonesia.
Di tempat makam Sunan Bonang ini ada cerita lucu. Saking taat dan inginnya menjaga diri, tak seorang pun dari rombongan Salamullah yang berbelanja dan membeli sesuatu di sana. Padahal, banyak makanan yang menarik hati dan menarik minat untuk dibeli di pasar yang berdekatan dengan kompleks makam. Keengganan untuk berbelanja itu sebagian besar dipicu oleh larangan yang pernah diberikan Syekh untuk membeli sesuatu di tempat-tempat kemusyrikan. Karena misi perjalanan sekarang adalah mengingatkan soal kemusyrikan, maka tak seorang pun yang berani berinisiatif membeli sesuatu di sana.
Baru setelah sampai di Pandaan dan Bunda bertanya tentang oleh-oleh yang dibawa, kami semua hanya tertawa karena tak seorang pun yang membelinya. Setelahnya, baru turun penjelasan bahwa larangan membeli itu hanya pada tempat-tempat yang memang jelas-jelas menunjukkan kemusyrikan sebagaimana Parangkusumo ataupun Gunung Kawi.
Selain cerita lucu itu, perjalanan hari itu juga memberikan pelajaran tentang berorganisasi karena rombongan sempat terpisah ketika dalam perjalanan dari Surabaya menuju Gresik. Awalnya mobil terakhir berhenti untuk membeli roti. Tetapi karena tidak ada informasi dan koordinasi dengan kendaraan lainnya, akibatnya mobil itu menjadi terpisah. Selanjutnya, keterpisahan itu juga berulang ketika mobil yang sama memilih jalan yang berbeda ketika perjalanan dari Gresik menuju Lamongan.
Alhamdulillah, kedewasaan dalam penyikapan di Salamullah semakin berkembang. Walaupun aku sempat khawatir ada yang saling salah menyalahkan, insiden itu tak terjadi. Ketika bertemu lagi, semuanya berfokus untuk menyelesaikan masalah yang di depan mata dan mengabaikan kesalahan koordinasi yang baru saja terjadi. Tak ada kata-kata “sudah kubilang”, “apa kata saya” atau menyalahkan orang lain yang biasanya muncul untuk menonjolkan kebenaran diri sendiri.
DIarsipkan di bawah: Diari, Perjalanan, eden, ldc, religi | yang berkaitan: Maulana Malik Ibrahim, Perjalanan, religi, salamullah, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri