• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

LDC (8): Lawatan Tauhid, Gus Maksum van Lirboyo

Hari ini (1 Agustus 2003) adalah hari yang padat terisi dengan jadwal lawatan. Ada tiga tempat yang akan kami kunjungi, yaitu Gunung Kawi, makam Bung Karno di Blitar dan Pesantren Lirboyo di Kediri. Di kedua makam itu kami harus menyampaikan pesan Tuhan kepada penanggung jawabnya agar tak membiarkan kemusyrikan yang menggunakan fasilitas makam. Sementara itu, di Pesantren Lirboyo kami harus menyampaikan peringatan keras dari Tuhan terhadap persekutuan dengan jin sebagaimana pernah dinyatakan secara terbuka melalui media massa oleh Gus Maksum, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo itu.

Di Gunung Kawi, rombongan Salamullah menemui penanggung jawab makam yang bernaung di bawah Yayasan Ngesti Gondo. Berdasarkan brosur yang diberikan secara formal kepada kami, Gunung Kawi sebenarnya adalah makam Kyai Zakaria II (Eyang Djoego/Taw Low She/Guru besar pertama) dan RM Imam Soedjono (Djie Low She/Guru besar kedua) yang merupakan prajurit Pangeran Diponegoro yang melarikan diri setelah peperangan melawan Belanda. Tetapi seiring dengan berlalunya waktu, makam yang juga dikenal dengan nama makam Mbah Djoego itu digunakan oleh para pengunjung untuk melakukan pemujaan guna mendapatkan pesugihan (kekayaan). Dan diantara pengunjungnya banyak orang-orang keturunan China yang datang ke sana.

Menurut kisah, kedua tokoh itu dalam perjalanannya menanam berbagai macam pohon-pohon langka. Salah satunya adalah pohon Dewandaru/Shian Tho yang menurut kepercayaan orang China hanya bisa ditanam oleh dewa/manusia utusan dewa. Menurut kepercayaan itu, barangsiapa yang kejatuhan buah atau sesuatu dari pohon Dewandaru/Shian Tho berarti akan mendapat kesuksesan maupun kebahagiaan.

Sementara itu, selain menyampaikan pesan agar makam Bung Karno dijaga dari kegiatan kemusyrikan dan meminta berkah orang yang meninggal, di Blitar Imam Mahdi Abdul Rahman juga menyerahkan surat dari Malaikat Jibril yang berisi peringatan dan pemberitahuan tentang kelahiran kembali ruh Bung Karno.

***

Yang mendebarkan adalah lawatan ke Pesantren Lirboyo. Kami ini bukanlah kumpulan jawara yang pemberani dan mempunyai ilmu bela diri. Jika dibandingkan dengan Gus Maksum yang merupakan pemuka dalam organisasi beladiri Pagar Nusa, kami tentu tak ada apa-apanya dalam ilmu bela diri dan ilmu kanuragan. Kami hanyalah orang-orang yang takut kepada Tuhan dan ingin setia menjalankan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Termasuk diantaranya adalah menyampaikan peringatan tentang persekutuan dengan jin yang pernah dinyatakan oleh Gus Maksum sebagai sebuah hal yang tak salah dalam agama Islam. Sementara itu Malaikat Jibril menyatakan bahwa pesantren dan pemuka agama semestinya harus menebarkan ajaran Tuhan yang bersih lagi jernih dalam hubungan manusia dengan-Nya, tak bersentuhan dengan jin sedikit pun.

Mas Rahman pernah mengutarakan kekhawatiran manusiawinya terhadap Gus Maksum karena Gus Maksum pernah menyatakan penentangan yang keras terhadap Salamullah melalui media massa. Sebaliknya, Salamullah juga pernah menulis opini yang keras melalui media massa mengenai masalah jin. Dan lagi, Salamullah sering mengirimkan buku-buku dan surat-surat yang diperkirakan tak berkenan bagi Gus Maksum.

Selain itu, satu hal yang juga membuat jengah Mas Rahman adalah isi surat Malaikat Jibril yang memberikan perintah kepada Gus Maksum untuk bertaat kepada Imam Mahdi yang notabene adalah dirinya. “Memangnya enak mengaku-aku Imam Mahdi, mendatangi orang dan meminta ditaati…?” kata Mas Rahman.

Sebagian keberanian dari rombongan Salamullah untuk menjalankan amanah-amanah  Allah itu sebenarnya juga berasal dari ketidaktahuan tentang sosok yang sedang dihadapi. Dalam kasus lawatan ke Pesantren Lirboyo yang memiliki santri sekitar 6000 orang, ada beberapa pertanyaan dan pernyataan “lucu” yang menggambarkan kepolosan dan kenaifan teman-teman Salamullah. “Apa hubungannya Gus Maksum dengan NU?” tanya Ibu Murdi dengan santai yang tidak mengetahui bahwa Pesantren Lirboyo adalah salah satu pesantren elit di kalangan NU. “Weleh, serem juga ya Mas tampangnya” komentar Mas Agus Susilo setelah melihat foto Gus Maksum di pesantren Lirboyo. Rupanya Mas Agus belum pernah melihat foto Gus Maksum sebelumnya.

Setelah menunggu cukup lama dan diterima oleh pengurus pesantren, kami mendapat kabar bahwa Gus Maksum tidak dapat menemui kami karena beliau sedang sakit. Karena beliau sakit maka pesan Tuhan dan Malaikat Jibril disampaikan oleh Imam Mahdi Abdul Rahman kepada ustadz dari Lirboyo yang menerima kami.

***

Pfuih…, tugas menyampaikan pesan kepada Gus Maksum telah tertunaikan. Walaupun tidak bertemu langsung dengan beliau, tugas itu telah kami usahakan semaksimal mungkin. Terus terang saja, lawatan ke Lirboyo adalah beban berat yang langsung terasa di bahu pada awal keberangkatan ketika Malaikat Jibril memerintahkan kami untuk mengunjungi tempat dan tokoh-tokoh spiritual untuk memperingatkan tentang kemusyrikan bangsa Indonesia.

Ketika semuanya telah selesai, sungguh lega hati kami. Simak saja, betapa kerasnya pesan yang disampaikan Malaikat Jibril yang harus kami bawakan kepada Gus Maksum.

“Kuberitakan Ruhul Kudus yang kini membumi, tiadalah yang lain yang celaka melainkan mereka yang berteman dengan jin memarakkan kemusyrikan. Tiadalah patut pembimbing agama dalam pesantren membudayakan persahabatannya dengan makhluk jin, setan yang terkutuk. Terkutuklah jin penyesat itu yang memberi ilmu kekebalan. Terkutuklah mereka yang mengamalkannya.

Telah diutus Imam Mahdi untuk meluruskan kembali ajaran Islam, dialah Nabi Muhammad yang sejati. Maka jangan lagi mengkultuskan siapapun, apalagi bila hanya mengajarkan ilmu jin yang menyesatkan ajaran Muhammad yang tauhid.

Akulah Malaikat Jibril yang telah menggaungkan diri. Taatlah kepada Imam Mahdi, karena dia adalah Nabi Muhammad yang terlahir kembali. Taatlah kepada Ruhul Kudus, karena akulah yang menyampaikan wahyu-wahyu Allah dan pengadilan-Nya.”

Pulang dari perjalanan menyusuri Gunung Kawi-Makam Bung Karno-Pesantren Lirboyo semuanya berjalan lancar. Kekhawatiran kami tentang serangan-serangan gaib sebagaimana pernah kami alami dulu tak terasa. Perjalanan dari Kediri menuju Pandaan berjalan lancar. Di Pandaan pun tak ada serangan-serangan gaib yang menyakiti jamaah Salamullah yang tinggal di rumah menemani Bunda.

Tapi ternyata kami tak bebas sepenuhnya dari serangan gaib. Keesokan harinya, Bunda mendapatkan serangan sehingga tubuhnya mengalami kesakitan. Walaupun sakit, serangan itu tak separah dan seberbahaya serangan biasanya. Malaikat Jibril menyatakan bahwa keselamatan kami memang sepenuhnya disebabkan oleh penjagaan Allah.

Sebenarnya, kemarahan jin dan serangan-serangan di dunia gaib itu tetap berluncuran menyerang Salamullah sebagai akibat kemarahan terhadap teguran atas kemusyrikan dan persekutuan dengan jin. Tetapi Allah menepis serangan-serangan itu. Dan ketika Allah membukakan sebagian serangan itu untuk dirasakan Bunda, itu hanya merupakan pelajaran agar kami tak sembrono dan tetap menjaga kewaspadaan kami dalam kehidupan sehari-hari.

Pelajaran terbesar buatku, Allah Maha Kuat dan Dialah sebaik-baik penjaga dan tempat berlindung.

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.