• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

LDC (7): Lawatan Tauhid, Rumah Setan

Rumah setan…!! teriak keponakan Mas Agus Susilo sambil menunjukkan jarinya ke arah rumah ketika pertama kali mengunjungi rumah di Pandaan yang hendak ditinggalinya.

“Waduh, bagaimana tho ini. Saya kan mau tinggal di rumah itu sendirian. Kok tiba-tiba keponakan saya berteriak seperti itu,” kata Mas Agus agak masygul menceritakan kejadian awal tentang rumah yang kemudian menjadi tempat kami menginap.

Rumah itu memang besar dan terlihat agak tua karena lama tak ditinggali. Dengan luas tanah hampir setengah hektar, rumah induk bergaya kuno, rumah kecil di samping yang sudah tua dan tak pernah dipakai, dikelilingi oleh pohon buah-buahan dan ilalang yang tak tersiangi dengan rapi, rumah itu memang kelihatan agak menyeramkan. Rumah induknya sendiri cukup luas, terdiri atas tujuh kamar tidur, dua kamar mandi di dalam, dan lima kamar mandi kecil di luar. Dari lima kamar mandi di luar, sebagian besar sudah tua, rusak dan tak terpakai lagi. Tapi dua diantaranya berhasil dibersihkan dan diaktifkan lagi oleh Mas Agus menjelang kedatangan rombongan Salamullah.

Bertempat di tepi jalan raya menuju tempat wisata Tretes, di dekat Taman Candra Wilwatikta, rumah itu memberikan akses yang mudah ke mana-mana. Tapi ya itu. Karena rumahnya besar dan memang bangunan tua, keadaannya terasa agak menyeramkan kalau ditinggali sendiri sebagaimana pernah dilakukan Mas Agus selama beberapa bulan pertama kepindahannya dari Jakarta.

Apalagi, beredar gosip yang menyatakan bahwa rumah itu berhantu dan bermacam-macam gosip lain semisal tabrakan yang sering terjadi di depan rumah itu. Secara teknis, jalan raya di depan rumah memang rawan kecelakaan karena berada di tanjakan yang agak tajam. Kendaraan dari arah Tretes (atas) cenderung berkecepatan tinggi dan mungkin sulit untuk dikendalikan manakala harus menginjak rem secara mendadak untuk menghindarkan sesuatu yang melintas di depannya. Tapi jika memang ada faktor x yang benar-benar berpengaruh, wallahu a’lam, hanya Tuhan yang Tahu.

Katanya, beberapa orang rombongan Salamullah juga mengalami hal-hal yang tidak biasa. Ibu Ipuk pada malam pertama kedatangan di rumah itu bermimpi melihat orang-orang berpakaian putih mirip pedande Hindu tapi bertangan dan berkaki kepiting yang menurut sense beliau menunjukkan kerajaan jin kepiting. Percaya tidak percaya, ketika membongkar batu-batu di halaman rumah itu memang ditemukan kepiting-kepiting kecil yang jumlahnya tidak sedikit. Apakah dua hal itu hanya kebetulan atau berhubungan, aku tidak tahu. Selain Ibu Ipuk, ada juga Mbak Dunuk yang mendapat sense tentang keberadaan makhluk lain di rumah itu. O, ya. Ada juga cerita Hamdan (sopir Ria) yang dalam keadaan setengah tidur di mobil juga merasa dibangunkan dan kemudian ditanya-tanya oleh seseorang yang kemudian menghilang. Selebihnya, aku tidak mendengar ada cerita lain yang luar biasa tentang rumah itu.

Begitu kedatangan rombongan Salamullah yang berjumlah 21 orang, rumah itu langsung terasa hidup dan berdinamika. Semua kamar langsung penuh dan ramai. Bahkan ruang tamu pun dimanfaatkan Feri untuk menggelar tempat tidur di waktu malam hari. Kesegaran langsung terasa karena orang-orang sibuk beraktivitas keluar masuk rumah. Dan kesegaran rumah itu semakin meningkat ketika Syekh memerintahkan Bunda untuk memperindah rumah itu dan semua orang diperintahkan untuk kerja bakti membereskan rumah, mulai dari pelataran hingga ke dalam rumah.

***

“Kalian belum akan berjalan lagi sebelum rumah ini bersih dan rapi,” kata Syekh. Padahal perjalanan dan kunjungan yang harus dilakukan masih panjang. Makam Walisongo yang harus dikunjungi masih delapan lagi karena baru makam Sunan Gunung Jati di Cirebon yang kami kunjungi.

Lalu mulailah kerja bakti menjadi wahana ujian pensucian bagi kami. Dimulai dengan Bunda yang mengatur taman dan interior rumah, semua ilalang, rerumputan dan daun-daun di halaman rumah harus dibersihkan. Rumput-rumput disiangi, pepohonan dirapikan. Pokoknya semuanya harus rapi menurut standar Syekh seperti biasanya. Dan tak ada privilege karena semua orang melakukannya. Tidak ada lagi dosen, orang kaya, Imam Mahdi, boss, atau atribut-atribut sosial lainnya. Semuanya turun mengerjakan pekerjaan bebersih itu. Satu hari tak selesai, dilanjutkan lagi hari esoknya. Demikian, sedikit demi sedikit rumah itu mulai kelihatan segar dan rapi. Bahkan bangunan tua di samping rumah induk yang mirip rumah hantu itu pun tak luput untuk dibersihkan.

Setelah semuanya mulai kelihatan rapi, kami baru diperbolehkan untuk meneruskan jalan mengunjungi makam-makam walisongo yang ada di sekitar Surabaya. Dan setelah kembali dari kunjungan ke makam Walisongo, pekerjaan bebersih rumah itu ternyata masih berlanjut. Syekh meminta Pak Umar untuk membereskan instalasi air (yang berarti membangun tower air) karena Pak Umar dulu pernah menyatakan akan membereskan instalasi air sebelum Bunda berangkat ke Pandaan.

Pernyataan Pak Umar itulah yang dijadikan alasan bagi Syekh untuk meminta perbaikan instalasi air. Menurut hitungan awam, mengapa janji itu masih ditagih padahal waktunya sudah lewat dan Bunda sudah berada ke Pandaan? Tapi begitulah ujian Syekh dan begitulah salah satu model pensucian yang harus kami jalani.

***

Walaupun kelihatan sepele, jangan dikira acara bersih-bersih rumah itu tak memberikan pelajaran spiritual. Sebagaimana Syekh sering memberikan ujian yang sejenis, ujian bebersih rumah itu juga mengajarkan kelapangan hati untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang secara umum dianggap kotor dan biasa dikerjakan orang lain. Dengan mengerjakannya sendiri dan tentu saja tak dibayar untuk melakukannya, pelajarannya adalah berempati pada pekerja kasar dan keikhlasan untuk melakukannya. Tak mudah untuk melakukan pekerjaan yang melelahkan itu manakala tak cukup keikhlasan yang kami miliki. Apalagi rumah itu bukan rumah kami sendiri dan kami sebenarnya tak mempunyai kepentingan yang besar terhadap rumah itu kecuali menumpang inap sementara waktu.

Tapi begitulah Syekh menyatakan bahwa rumah itu harus dibuat indah sebagai hadiah untuk keluarga Mas Agus yang sudah demikian ikhlas mengabdikan dirinya dan segala yang dimilikinya di jalan Allah. Selain menjadi tuan rumah yang luar biasa di Pandaan, begitu banyak keikhlasan yang telah dihadirkannya dan bisa dirasakan oleh oleh Jamaah Salamullah. Bayangkan saja, baru awal kenal Salamullah langsung meminjamkan mobil VW Combi untuk dipakai Salamullah. Setelahnya, mobil Carens ditinggal di Jakarta dan dipakai penuh untuk kepentingan-kepentingan Salamullah ketika beliau pindah ke Pandaan. Padahal, bisa saja mobil itu dipakai oleh putri-putrinya atau dipakai keluarga. Tapi mobil itu ternyata dipinjamkannya melalui Pak Umar untuk keperluan Salamullah. Belum lagi, tempat tinggalnya di Jakarta juga dipercayakannya kepadaku ketika aku berada dalam kesulitan.

Masih banyak lagi keikhlasan-keikhlasan yang dihadirkan Mas Agus yang kemudian membuat Syekh menyatakan ingin mengutarakan kecintaannya. Dan pembenahan rumah itulah yang dinyatakan Syekh sebagai wujud kecintaan Tuhan dan kecintaannya kepada muridnya.

Selain sebagai hadiah, perbaikan rumah itu ternyata juga memuat ujian-ujian yang tak disangka. Banyak permintaan Syekh untuk perbaikan rumah itu, banyak kesempurnaan yang dituntutkannya yang membutuhkan biaya tak sedikit. Padahal, rumah itu bukan rumah pribadi milik Mas Agus melainkan pinjaman dari koleganya di kantor. Mendapati ganjalan hati yang masih tersisa itu, Syekh menyatakan bahwa Tuhan sedang mengajarkan sebuah standar keikhlasan.  Membalas budi baik, membalas keikhlasan orang lain melebihi keikhlasan yang diberikannya. Itulah standar kesucian yang sedang diajarkan Tuhan.

Wow, berat tapi benar dan indah. Seandainya saja hal itu dapat menjadi pondasi dan praktek sehari-hari kita dan masyarakat kita.

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.