• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

LDC (4) – Lawatan Tauhid, Yogya-Solo

Walaupun sampai di Pondok Tingal, Muntilan hari Senin dini hari (pukul 00.30) kegiatan pagi harinya harus terus kami jalankan dan tak boleh tertunda. Hari itu (Senin, 28 Juli 2003) jadwal kami adalah menyampaikan pesan Malaikat Jibril-Ruhul Kudus ke Kraton Yogya dan Parangkusumo.

Sementara Bunda pergi mengunjungi Pak Mukti Ali (mantan menteri Agama) dan mengobati beliau, rombongan yang lain bersama-sama menuju kraton Yogya dipimpin Imam Mahdi Muhammad Abdul Rahman. Menurut Malaikat Jibril, Mukti Ali adalah seorang hamba Tuhan yang amanah dalam pekerjaannya. Itulah sebabnya Allah ingin membalaskan kebaikannya dengan cara memerintahkan Bunda untuk pergi dan mengobatinya.

Di kraton Yogya, kami mendapat berita bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono X sedang tidak berada di tempat dan berada di Jakarta. Rombongan Salamullah kemudian diterima oleh Bapak Hardi dari Sekretariat Kesultanan. Mewakili Sri Sultan, Pak Hardi menerima dan menampung penjelasan dan pesan yang disampaikan oleh Mas Rahman.

Di dalam pesan yang disampaikannya, Mas Rahman menjelaskan bahwa rombongan yang datang berasal dari Salamullah dan merupakan murid-murid Malaikat Jibril. Maksud lawatan ke kraton Yogya adalah menyampaikan pesan Tuhan yang sedang mengingatkan kemusyrikan bangsa Indonesia. Ajaran Jawa, di dalam penjelasan Mas Rahman, adalah ajaran Ketuhanan yang Maha Esa yang mengandung nilai-nilai luhur. Ajaran luhur itu bersesuaian dengan ajaran Tuhan yang sedang dijelaskan-Nya dan akan dikemukakan Tuhan pada saat ini. Oleh karenanya, Malaikat Jibril meminta agar ajaran Jawa tersebut dibersihkan dari pengaruh mistik dan keterkaitan dengan Nyi Loro Kidul agar bersih dan benar-benar bersendikan pada Ketuhanan yang Mahaesa.

Diakhiri dengan doa, rombongan kemudian menuju Parangkusumo bersama dengan rombongan Bunda yang bergabung setelah selesai mengobati Pak Mukti Ali.

***

Di dalam perjalanan menuju Parangkusumo, konvoi rombongan sempat terpisah cukup lama. Tapi akhirnya rombongan dapat berkumpul kembali di Parangkusumo.

Ketika sampai di Parangkusumo, aku melihat Bunda baru saja menasihati penjaga batu yang sering digunakan untuk menyampaikan sesaji kepada Nyi Loro Kidul dan dipercaya sebagai petilasan atau tempat pertemuan antara Panembahan Senopati (raja pertama Mataram) dengan Nyi Loro Kidul. Sosok penjaga petilasan itu sangat sederhana baik dari sisi penampilan maupun pemikirannya. Kesederhaannya itu membuat Bunda sangat terharu sehingga berdoa kepada Tuhan meminta belas kasihan untuknya.

Setelah berdoa dan hendak melanjutkan perjalanan, kami melihat ada uang Rp 50 ribu terjatuh di pasir dan ketika diumumkan tak seorang pun menyatakan uang itu miliknya. Akhirnya uang Rp 50 ribu itu diberikan kepada penjaga tempat itu.

Baru berjalan beberapa saat, tiba-tiba Bunda mendapat teguran Allah. Ternyata permohonan ampun Bunda untuk penjaga batu itu tak dikabulkan Tuhan. Tuhan telah memberikan bayaran Rp 50 ribu untuk kebaikan penjaga batu itu. Selebihnya, penjaga batu itu harus bertanggung jawab terhadap dosa yang sangat besar karena sudah begitu banyak orang yang tersesat dan terlibat kemusyrikan melalui perantaraannya.

Sementara itu, Satya yang ikut bersama mobil Panther hijau yang tersesat tadi juga mendapat teguran dari Bunda. Satya diingatkan untuk berani menerobos karena dia telah mendapat tugas untuk menjadi pembuka jalan bagi Imam Mahdi. Sebagai pelajaran, Satya mendapat tugas untuk menyampaikan sendiri surat tentang kemusyrikan Nyi Loro Kidul kepada kuncen Parangkusumo, pemilik Hotel Widodo yang bernama Bapak Surakso dan menjadi atasan dari penjaga petilasan di Parangkusumo tersebut.

Aku sempat deg-degan juga membayangkan reaksi dari orang yang akan dikirimi surat tersebut. Bayangkan saja, kami harus mendatangi penjaga gerbang istana Nyi Loro Kidul yang pasti juga merupakan pengikutnya. Di sana, kami harus menyampaikan pesan Tuhan yang keras bahwa persekutuan dengan Nyi Loro Kidul adalah perbuatan yang dimurkai Tuhan dan telah membuat bangsa Indonesia tercabut berkahnya.

Setelah sempat mencari-cari Pak Surakso, akhirnya kami menemukannya di salah satu Hotel Widodo. Dari tempat parkir kami semua melihat hotel itu disangga oleh dua tiang berbentuk ular naga berwarna hijau. Tiang itu seolah menjadi simbol kehidupan hotel yang disangga oleh berkah yang diperoleh dari Nyi Loro Kidul, yang dinyatakan Malaikat Jibril sebagai ular naga betina sebagaimana tercantum di dalam kitab Wahyu di dalam Injil.

Di Hotel Widodo, Satya kemudian menyampaikan pesan-pesan Tuhan dan Malaikat Jibril tentang kemusyrikan serta menyerahkan surat Imam Mahdi dan Malaikat Jibril kepada Pak Surakso. Surprisingly, tidak ada perbantahan dan penentangan yang dilakukan oleh Pak Surakso. Mungkin dia tak menyangka didatangi rombongan berpakaian putih-putih dan mendapatkan pesan Tuhan seperti itu.

Alhamdulillah, amanah Tuhan telah tersampaikan kepadanya. Kalau setelah itu dia marah atau mengirimkan serangan gaibnya, kami hanya dapat menyandarkan semuanya kepada Tuhan. Dan sekali lagi alhamdulillah, semua anggota rombongan baik-baik saja walaupun amanah yang berat dan keras telah kami sampaikan kepada pengikut Nyi Loro Kidul.
Tuntasnya penyampaian amanah Tuhan di Parangkusumo membawa kelegaan besar bagiku dan pasti juga bagi teman-teman. Selama mengingatkan bangsa Indonesia mengenai kemusyrikan, telah berulang kali kami menerima serangan metafisis yang menyakitkan. Tanpa meremehkan tempat-tempat yang lain, Parangkusumo seperti sebuah milestone dalam Lawatan Tauhid kali ini. Tempat itu adalah pusat pemujaan yang sering dijadikan ajang bagi orang-orang yang ingin meminta berkah kepada Nyi Loro Kidul yang diyakini sebagai penguasa pantai Selatan.

***

Perdebatan kecil mengenai kemusyrikan ternyata justru terjadi di Kraton Solo pada keesokan harinya. Diterima oleh Pangeran Puger, putera Pakubuwono XII, Imam Mahdi Muhammad Abdul Rahman menyampaikan pesan untuk menjaga dan menegakkan ketauhidan. Mendapati pesan itu, Pangeran Puger menyatakan bahwa banyak hal yang ada di kraton yang membutuhkan klarifikasi dan penjelasan agar tidak menimbulkan salah sangka. Salah satunya adalah mengenai keberadaan Nyi Loro Kidul. Menurut Pangeran Puger, Nyi Loro Kidul adalah makhluk Tuhan yang merupakan rekanan (partner) Panembahan Senopati. Menurut Pangeran Puger, Penembahan Senopati tidak menyembah Nyi Loro Kidul, melainkan berdoa kepada Allah yang kemudian mengirimkan Nyi Loro Kidul kepadanya.

Tentu saja kami berbeda pendapat dengan Pangeran Puger. Walaupun cukup seru, diskusi itu tidak berlarut-larut. Imam Mahdi Muhammad Abdul Rahman mengakhirinya dengan meminta ijin untuk berdoa. Maka, berdoalah kami semua di sana.
Sebelum sampai di Kraton Solo, rombongan Salamullah sempat mengantarkan Mbak Dunuk sang Dewi Kwan Im untuk berfoto di Borobudur. Selain itu, rombongan juga bersilaturahmi dengan Romo Rus di gereja Maria Asumpta di Klaten. Kunjungan di gereja Maria Asumpta itu adalah kunjungan rombongan Salamullah yang kedua setelah kunjungan pada tahun 1999 yang lalu.

Bagi yang belum tahu, Romo Rus (Rusgiharto) adalah seorang sahabat Salamullah yang pernah menerima Salamullah dengan tangan terbuka sewaktu beliau bertugas di Semarang. Beliau seorang pastor Katolik yang sangat rendah hati dan pernah menemani Salamullah ketika me-ngunjungi Sendangsono. Beliau juga pernah melakukan kunjungan silaturahmi ke Mahoni dalam salah satu kesempatan ketika sedang berada di Jakarta.
Di tempat Romo Rus, Bunda menyampaikan berita langit tentang kondisi Indonesia yang akan terus memburuk dan meminta Romo Rus untuk menyiapkan umatnya. Selain itu, Bunda juga menyerahkan naskah Al Mursalat dan CD Kidung Eden kepada beliau. Dalam kesempatan itu kami juga bernyanyi bersama yang diakhiri dengan lagu “Kemesraan”.

Sebelum beranjak pergi dari gereja Maria Assumpta, Syekh menyatakan bahwa sumber air di gereja itu adalah sumber air bermukjizat yang diberkahi Tuhan. Alhamdulillah, Puji Tuhan. Tuhan memang sangat pemurah dan sangat baik kepada kita semua.

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.