Ada empat mobil yang berangkat dari Mahoni di hari Minggu pagi 27 Juli 2003 yang cerah itu. Ada mobil KIA Carens yang diisi Bunda, Mbak Dunuk, Pak Umar, Ibu Ipuk, Pak Hardi, Mas Rahman. Ada Panther Hijau yang diisi Andit, Nur, Ibu Murdi, Satya, dan Arif. Ada Panther Putih yang isinya Ibu Ietje, Ria, Surga, Hamdan dan Pak Arifin. Aku sendiri naik Daihatsu Taruna (milik Mas Yudi) bersama Feri, Rina, Lala, dan Yudhis. Semuanya 21 orang.
Diiringi oleh doa dan makanan yang disiapkan dengan penuh cinta oleh teman-teman di Salamullah, kami berangkat pagi berkonvoi menuju makam Sunan Gunung Jati di Cirebon. Itulah tujuan pertama yang menjadi awal perjalanan spiritual, Lawatan Tauhid ini.
Rombongan sampai di kompleks makam Sunan Gunung Jati sekitar pukul 16.00. Ada sedikit keterlambatan disebabkan mobil Taruna yang kukendarai agak rewel sehingga kami harus mampir ke bengkel sebentar untuk memperbaikinya. Selebihnya semuanya berjalan lancar.
Sesampai di kompleks makam Sunan Gunung Jati, kami berjalan beriringan menuju masjid. Iring-iringan itu cukup menarik perhatian karena kami semua memakai pakaian resmi Salamullah, kain putih tujuh meter. Dan bersamaan dengan pandangan keheranan orang-orang melihat pakaian yang dikenakan rombongan Salamullah, pengemis-pengemis kecil terus menempel dan meminta sedekah. Jumlah pengemis itu jumlahnya tak sedikit dan terus menempel bergantian dari satu tempat ke tempat lain.
Aku melihat mereka dengan sedih, tetapi aku juga tak bisa menahan keprihatinan dalam hatiku. Cara mereka meminta-minta itu sangat mengganggu karena diungkapkan dengan nada memaksa dan mendesak. Seolah, kalau kami tak memberikan sedekah kepada mereka, kami telah berbuat dosa besar kepada Tuhan. Bahkan beberapa diantara mereka memaksa kami untuk memberikan sedekah dengan cara mengomel dan menangis-nangis.
Di makam Sunan Gunung Jati itu, aku juga prihatin melihat petugas yang menjaga kotak amal memukul-mukuli kotak setiap kali ada pengunjung yang lewat sembari mengingatkan pengunjung untuk memberikan sedekah dengan ikhlas.
Kebenaran yang didesakkan hanyalah menghasilkan keterpaksaan, itu pengajaran Malaikat Jibril di Eden.
Mengapa harus memukul-mukul kotak dan membuat seruan-seruan bernada intimidatif untuk mendapatkan sumbangan sementara tulisan tentang anjuran bersedekah itu sudah terpampang besar di banyak tempat?
***
Berbeda dengan perkiraan kami sebelumnya bahwa perjalanan ini dipimpin oleh Bunda, ternyata Bunda tak diperkenankan oleh Malaikat Jibril untuk turun menyampaikan pesan. Pesan Malaikat Jibril-Ruhul Kudus itu harus disampaikan sendiri oleh Mas Rahman yang telah ditunjuk Allah sebagai Imam Mahdi dan pemimpin kaum Islam.
Akhirnya rombongan Imam Mahdi Muhammad Abdul Rahman berjalan sendiri tanpa Bunda dan diterima salah seorang kuncen makam Sunan Gunung Jati, Bapak Masyhuri. Setelah menyampaikan pesan Malaikat Jibril untuk menjaga makam supaya tidak digunakan dalam kegiatan kemusyrikan, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Magelang, tepatnya menuju tempat menginap di Pondok Tingal, Muntilan yang lokasinya berdekatan dengan Candi Borobudur.
“Imam Mahdi sedang PKL (Praktek Kerja Lapangan),” canda Feri mengiringi perjalanan ini. “Dan kita semua sedang menemaninya, he..he..he..”
DIarsipkan di bawah: Diari, Perjalanan, eden, ldc, religi | Ditandai: eden, religi, Perjalanan, ldc, makam Sunan Gunung Jati