Perjalanan panjang selama 34 hari bersama-sama bukanlah perjalanan yang mudah. Walaupun banyak hal-hal yang menyenangkan dan tugas-tugas padat yang harus kami selesaikan, gesekan-gesekan tak bisa dihindarkan sama sekali selama perjalanan. Kebiasaan hidup dan karakter yang berbeda membuat kami harus mampu mengendalikan diri dan bertoleransi satu sama lainnya. Dalam kondisi sadar, hal-hal semacam itu biasanya dapat kami kendalikan. Tetapi seiring dengan banyaknya tekanan fisik selama perjalanan, sikap itu tak selamanya dapat kami jaga. Keegoisan dan kebiasaan-kebiasaan buruk dapat muncul dalam situasi yang tak sepenuhnya dapat kami kontrol dengan sadar. Itulah ujian-ujian penitian spiritual kami selama perjalanan.
Sabar itu bukan teori, tetapi kelapangan ketika menghadapi kesulitan tanpa keluhan. Ikhlas itu bukan sekedar menjalankan sesuatu, tetapi tak sempit hati ketika menjalankannya. Ikhlas itu berarti pula tak mengungkit kebaikan yang pernah kita lakukan. Tak egois itu bukan sekedar tak membesar-besarkan kepentingan diri sendiri, tetapi bersedia mengorbankan kepentingan pribadi untuk hal-hal yang lebih besar. Rendah hati itu berani mengakui kesalahan dan bersedia meminta maaf. Menjaga lisan itu tak mengolok-olok dan memperbicangkan keburukan orang lain. Bijaksana itu bersikap adil, bertutur kata yang tak menohok orang lain.
Semua itu mudah diucapkan, agak sulit dipraktekkan, lebih sulit lagi untuk dijalani manakala kita berada dalam kondisi capek fisik dan mendapat tekanan mental yang tak ada hentinya. Dan itulah ujian spiritual sesungguhnya yang harus kami jalani. Bukan menghafal dalil, bukan memperbanyak ibadah, tetapi membuat semua pengajaran kebaikan itu menyatu dalam diri kami baik dalam kondisi sadar maupun tak sadar, lapang maupun sempit.
Dan kami pun nyaris terpeleset dalam ujian ini ketika seorang diantara kami mengusulkan agar pembubaran acara dilakukan di Bandung saja sehingga dia dapat tinggal di Bandung setelahnya. Tentu saja teman itu mempunyai kepentingan, tapi mungkin dia tak ingat bahwa ada barang dan rombongan yang menumpang di mobilnya. Ketika usul ini diterima Imam Mahdi Abdul Rahman, maka bermunculanlah rencana-rencana teman lain untuk tinggal di Bandung. Akibatnya, para dhuafa yang menumpang dan bermodal keikhlasan orang lain hanya bisa terbengong-bengong memikirkan bagaimana mereka dan barang mereka dapat sampai ke Jakarta.
Untunglah Mas Rahman cepat tersadar dan segera menganulir ijinnya sehingga pembubaran tetap dilakukan di Jakarta. Sungguh, perjalanan panjang yang melelahkan selama 34 hari itu nyaris gagal (kacau) oleh dorongan kepentingan pribadi yang tak dapat ditahan.
DIarsipkan di bawah: Diari, Perjalanan, eden, ldc, religi | Ditandai: eden, Perjalanan, religi, salamullah