Sewaktu masih di Pandaan, Mbak Dunuk mendapat email dari Chippy tentang kemunculan planet X yang menjadi fenomena langka semesta. Di dalam email itu diceritakan tentang kemunculannya sejak awal bulan Agustus dan mencapai puncaknya pada tanggal 27 Agustus dan digambarkan sebagai bintang yang sangat terang di langit.
Menurut ahli astronomi, planet yang muncul itu adalah planet Mars yang pada saat ini posisinya memang terdekat dengan matahari dan bumi sekaligus. Keadaan itu memang sangat langka dan terjadi dalam ribuan tahun sekali. Sementara itu, beberapa kalangan di Internet yang mendapatkan channeling meyakini bahwa planet yang muncul itu bukanlah Mars melainkan planet X yang digambarkan mempunyai pengaruh sangat buruk terhadap bumi, diantaranya memicu pergeseran kutub (pole shift) dan akan membawa bencana-bencana serta perubahan dramatis pada bumi. Tetapi kemunculan planet X itu diyakini pula sebagai penanda awal dari evolusi bumi menuju sebuah peradaban baru yang diyakini sebagai peradaban spiritual.
Di Salamullah, kami semua awam tentang hal-hal semacam itu. Tetapi ada Yulia –seorang jamaah baru– yang sudah melalui perjalanan pencarian spiritual pribadi yang panjang hingga kemudian sampai di Salamullah. Ternyata Yulia cukup aware dengan isu kemunculan planet X tersebut karena dia rajin menyimak berita-berita di Internet. Yulia sendiri sebenarnya ingin menanyakan hal tersebut kepada Malaikat Jibril karena menurutnya banyak teori tentang hal itu dan dia ingin mengetahui komentar Syekh.
Walaupun tak memberikan komentar secara tegas tentang planet X itu, Malaikat Jibril mendorong kami untuk mengamatinya. Dalam sapaannya, Malaikat Jibril menjelaskan tentang bumi yang sedang mengalami perubahan besar, salah satunya akibat planet Mars yang sedang mendekat. Pemanasan global, melelehnya kutub, gelombang pasang, gunung-gunung baru, gunung meletus, badai puting beliung, banjir, serta perubahan peta bumi secara global yang akan segera terlihat. Kata Malaikat Jibril, itulah yang dimaksudkan dalam Injil dengan “Langit baru, bumi baru”.
Dorongan dari Malaikat Jibril itulah yang kemudian memicu kami untuk berangkat pada tanggal 27 Agustus 2003 menuju Observatorium Bosscha karena Bosscha membuka teropongnya untuk umum. Menjelang keberangkatan, aku sempat membaca di surat kabar tentang kehebohan di masyarakat sebagai akibat pemberitaan tentang planet X tersebut. Bukan hanya di Indonesia, kehebohan itu juga melanda berbagai tempat di belahan bumi lainnya. Di Jakarta, bahkan terjadi kerusakan-kerusakan di Planetarium akibat berjubelnya ribuan pengunjung yang ingin memuaskan rasa keingintahuannya.
Rombongan kami sampai di Observatorium Bosscha, Lembang pada tanggal 28 Agustus 2003, sekitar pukul 22. Di sana, telah menunggu beberapa Jamaah Salamullah yang datang dari Jakarta untuk bergabung bersama. Sayangnya malam itu langit mendung sehingga kami tak dapat menyaksikan kemunculan planet Mars itu melalui teropong yang ada. Akhirnya kami bergabung dengan pengunjung Bosscha yang berjubel dan mendengarkan presentasi ilmiah tentang fenomena yang sedang terjadi. Setelah menunggu sekitar satu jam dan belum ada tanda-tanda langit menjadi cerah, akhirnya rombongan turun dan melanjutkan perjalanan menuju Bandung.
Lalu apa maksud Syekh memerintahkan kami untuk datang ke Bosscha kalau tak dapat menyaksikan melalui teropong? Dengan bercanda, seorang teman berkata: “Jangan-jangan sebenarnya kita memang cuma disuruh mejeng dan meninggalkan jejak Jibril di situ saja sebagaimana kita disuruh jalan-jalan di pasar dan mal, he..he..he..”
DIarsipkan di bawah: Diari, Perjalanan, eden, ldc, religi | Tagged: bosscha, eden, Perjalanan, planet kembar, religi, salamullah