• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

LDC (24): Lawatan Perdamaian, Jejak Silaturahmi

Di dalam lawatan selama 34 hari ini, Malaikat Jibril juga memerintahkan kepada kami untuk melakukan silaturahmi-silaturahmi kepada para tokoh. Dalam perjalanan awal kami sempat bersilaturahmi dengan Romo Rus di gereja Maria Assumpta, Klaten. Sewaktu tinggal di Pandaan, kami juga diminta melakukan silaturahmi ke Pondok Pesantren Langitan, Tuban tempat kediaman Ust. Abdullah Faqih.

Karena Ust. Abdullah Faqih sedang sakit hingga tak dapat menghadiri sholat Jumat, di Langitan kami diterima pengurus pesantren. Kepada pengurus pesantren kami menitipkan pesan dan surat yang intinya berupa peringatan Tuhan tentang keadaan bangsa Indonesia yang akan sangat buruk di masa datang, termasuk kondisi Pemilu yang carut marut. Dan oleh karenanya, para ulama diharapkan dapat mengayomi umat serta tidak terlibat dalam konflik kepentingan yang mengeras untuk memperebutkan kekuasaan.

Selain ke Langitan, kami pun sempat bersilaturahmi dengan KH Yusuf Hasyim di Pondok Pesantren Tebuireng-Jombang. Diterima dengan sangat ramah dan lapang, di kediaman Pak Ut (panggilan KH Yusuf Hasyim) kami melakukan doa bersama untuk umat dan bangsa. Sebelum berpamitan, kami sempat menyanyikan lagu “Rumah Allah” bersama dan diantarkan oleh seorang Ustad berkeliling melihat-lihat sarana pendidikan di kompleks pesantren.

Dan dalam perjalanan menuju Bandung, kami diterima oleh KH Abdullah Abbas, di Buntet-Cirebon pada hari Kamis 28 Agustus 2003 sekitar pukul 11.30. Kyai yang sudah sangat sepuh dan rendah hati tersebut berulang-ulang meminta maaf atas penyambutannya yang sederhana kepada kami. Sementara itu, kami juga meminta maaf karena kedatangan kami yang mendadak dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Bersama KH Abbas, kami berdoa bergantian memohon kepada Allah untuk keselamatan umat dan bangsa Indonesia.

Dari Buntet-Cirebon, konvoi berlanjut menuju Pondok Pesantren Az Zaytun di Indramayu. Ternyata tak mudah perjalanan kami menuju ke sana. Karena tak ada yang tahu lokasinya, kami sempat berputar-putar cukup lama. Setelah dipandu ojek untuk menuju lokasi dengan melintasi persawahan dengan jalan-jalan yang amat buruk kondisinya, akhirnya sampai juga kami di kompleks pesantren yang memang sangat megah dibandingkan bangunan di sekitarnya maupun tempat-tempat pendidikan lainnya. Dipandu Pak Zilmi, Ketua Bidang Kesiswaan Pondok Pesantren Az Zaytun, kami berkeliling dan mendapat penjelasan-penjelasan tentang seluk beluk pesantren yang mempunyai fasilitas yang lengkap dan megah itu. Di sana, kami pun berdoa untuk keselamatan umat dan bangsa di masjid Rahmatan Lil ‘Alamin yang sedang dibangun. Diantara doa permohonan keselamatan dan penjagaan dari kesombongan, bunga-bunga api jatuh dari kubah ke dekat kami seolah peringatan Tuhan yang akan membakar setiap kesombongan dan kesalahan yang kami lakukan.

Pagi hari Jumat, 29 Agustus 2003 kami bersiap-siap untuk menuju Masjid Salman ITB Bandung setelah sebelumnya menginap di sebuah wisma. Tiba-tiba ada SMS dari Bunda di Pandaan meminta Mas Rahman untuk telpon yang kemudian berujung pada perintah Syekh untuk mendatangi Yayasan Muthahhari. Yayasan Muthahhari oleh masyarakat umum sering dianggap sebagai pembawa suara Islam Syi’ah. Sementara itu, dalam pertemuan kami di sana Bp. Gufron Fakhrudin yang menjadi ketua harian yayasan menjelaskan bahwa Yayasan Muthahhari adalah kelompok non-sektarian. Tetapi karena memperkenalkan mazhab Imam Ja’far Shodiq di luar mazhab-mazhab yang selama ini dikenal di kalangan Sunni (Maliki, Hanafi, Syafii, Hambali), maka mereka dianggap sebagai kelompok Syi’ah.

Setelah Mas Rahman menyampaikan misi kedatangan kami di Muthahhari, Bapak Gufron menyampaikan selintas bahwa selain fenomena kemunculan planet Mars, di bulan Ramadhan nanti juga ada gerhana matahari total dan gerhana bulan total yang menurut beliau adalah tanda-tanda kedatangan Imam Mahdi. Selain itu, kehancuran negara Irak yang menyimpan kebudayaan Islam juga menjadi tanda kedatangan sosok yang dirahmati Allah yang menurut keyakinan Syi’ah adalah putra Imam Al Asykari.

Selepas dari Muthahhari, kami bergegas melanjutkan perjalanan di Bandung yang mulai macet. Setelah sholat Jumat dan makan siang di kediaman Ade Yunus, kami melanjutkan perjalanan menuju Masjid Salman ITB. Dalam perjalanan menuju Salman, hujan turun rintik-rintik dan semakin deras yang akhirnya membuat rombongan terpisah. Sementara rombonganku sudah sampai di Salman, rombongan Mas Rahman tertinggal di belakang karena masih melakukan silaturahmi dengan keluarganya. Dalam kesempatan menunggu kedatangan rombongan Mas Rahman, aku memutuskan untuk singgah di kampusku dulu. Dengan tetap mengenakan kain tujuh meter, aku dan beberapa teman masuk kampus ITB menuju jurusan Teknik Informatika tempatku belajar dulu. Diiringi tatapan penuh tanda tanya kami berjalan melintasi kampus, meninggalkan jejak Jibril di sana. Hari sudah mulai sore, hujan semakin deras, tapi alhamdulillah aku sempat bertemu seorang sahabatku yang menjadi dosen dan sedang mengajar di sana.

Di masjid Salman, akhirnya kami menutup perjalanan panjang kami. Setelah diterima salah seorang pengurus dan berdoa bersama, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.