• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

LDC (14): Lawatan Tauhid, Lawatan Penutup

Sabtu, 9 Agustus 2003, akhirnya rombongan yang menyelesaikan lawatan ke makam para wali dan kembali ke Jakarta berangkat. Rombongan terdiri dari Mas Rahman, Pak Arifin, Feri, Hamdan, dan aku. Rombongan berangkat pagi hari sekitar pukul lima usai umat Islam melakukan sholat Subuh.

Setelah menempuh perjalanan hampir 9 jam diselingi macet total sekitar satu jam, akhirnya rombongan mencapai makam Sunan Muria sekitar pukul 13.30. Makam yang letaknya di perbukitan itu tampak tinggi sekali. Setelah melintasi papan nama Yayasan Sunan Muria yang nampak di pinggir jalan, kami mencari tempat parkir. Perkiraan kami, kantor yayasan itu ada di dekat papan nama yayasan itu. Ternyata tak ada kantor yayasan di bawah situ. Ketika ditunjukkan bahwa yayasan itu ada di atas, mau tidak mau kami harus mendaki bukit menuju lokasi makam Sunan Muria.

Menapaki jalan yang berkelok dan naik curam, kami tak dapat menahan rasa lelah dan nafas yang ngos-ngosan. Setelah berjalan cukup jauh dan kelelahan, aku sempat bertanya pada pedagang di pinggir jalan yang menyatakan bahwa perjalanan kami baru seperempat jalan. Apa…?! Jantungku langsung berdegup lebih keras lagi. Perjalanan yang sudah jauh dan terasa amat melelahkan itu dikatakannya baru seperempat jalan. Tapi karena tidak ada pilihan lain (padahal tadi ada tawaran naik ojek yang kami tolak karena kami mengira tempatnya dekat) kami pun meneruskan perjalanan pelan-pelan dan berhenti sebentar setiap kali kelelahan. Mataku terasa berkunang-kunang dan nafasku tersengal-sengal meniti tangga yang rasanya tak ada habisnya. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga kami di puncak bukit tempat disemayamkannya Sunan Muria untuk menyampaikan pesan Malaikat Jibril kepada pengurus makam yang ada di sana.

Mendaki bukit yang melelahkan itu, kami bersyukur bahwa tidak semua rombongan Salamullah berangkat ke sana. Terbayang betapa beratnya perjalanan seandainya ibu-ibu harus mendaki bukit yang jauhnya sekitar 2 km itu. Hamdan yang menjaga di mobil bahkan sempat diberitahu oleh penduduk di sana untuk tidur karena perjalanan ke bukit itu akan memakan waktu sekitar dua jam. Alhamdulillah, tak sampai satu jam kami sudah dapat kembali ke mobil.

“Untung kita belum makan,” kata Pak Arifin mengomentari perjalanan itu. “Kalau tadi makan dulu, bisa-bisa kita nggak kuat sampai ke atas karena kekenyangan.” Seorang beriman senantiasa hatinya penuh syukur, itulah ungkapan untuk Pak Arifin, anggota senior yang masih bersemangat dan bertenaga muda.

Begitu menyelesaikan tugas di makam Sunan Muria, rasanya lega sekali. Dua makam yang tersisa nampak lebih ringan lagi di pelupuk mata. Benar saja, di makam Sunan Kudus, kami bertemu dengan pengurus yayasan yang bernama Bapak Tauhid. Sesuai dengan spirit tauhid yang tersandang di namanya, kami melihat makam Sunan Kudus menjadi salah satu makam yang paling bersih diantara makam walisongo. Di halaman tertera papan larangan kepada pe-ngunjung untuk memberi sesuatu kepada peminta-minta. Larangan itu paling tidak berhasil membatasi para peminta-minta sehingga keadaannya tak seperti di makam Sunan Gunung Jati di Cirebon.

Setelah menerima penjelasan yang dibawakan Mas Rahman, Bapak Tauhid menyambut baik penjelasan itu dan menjelaskan bahwa beliau termasuk yang sangat keras terhadap kemusyrikan di makam. Bahkan, beliau pernah mengusir pengunjung dari makam karena mendapati peziarah itu sedang mencium nisan makam Sunan Kudus.

Di makam Sunan Kalijogo, rombongan diterima oleh pengawas Yayasan Sunan Kalijogo yang berjanji untuk menyampaikan pesan-pesan yang kami bawa kepada para pengurus. Di sana, Mas Rahman juga berdoa seperti biasanya. Yang tidak biasa, dalam doanya yang spontan itu tiba-tiba Mas Rahman berdoa agar Allah menghukum orang-orang yang melakukan kemusyrikan di makam Sunan Kalijogo. Mas Rahman sendiri heran karena sebelum-sebelumnya dia tak pernah berdoa seperti itu. Mungkin, di makam Sunan Kalijogo memang ada orang-orang yang menggunakan makam itu untuk aktivitas kemusyrikan semisal mencari ilmu kanuragan karena Sunan Kalijogo dikenal sebagai wali yang mempunyai kesaktian diantara para wali lainnya. Wallahu a’lam.

Alhamdulillah, perjalanan ke Demak mengunjungi makam Sunan Kalijogo adalah lawatan terakhir yang kami lakukan untuk menjalankan perintah Allah yang disampaikan oleh Malaikat Jibril. Sesudahnya, kami melanjutkan perjalanan untuk pulang menuju Jakarta.

Dalam perjalanan menuju Jakarta itu, tiba-tiba ada SMS masuk dari Lala sekitar pukul 21.40 yang meminta kami untuk mencari wartel dan menelpon ke Pandaan. Dari suara di ujung sana, Bunda menceritakan bahwa baru saja wahyu Allah turun tentang perjalanan yang sudah kami tempuh selama dua minggu ini.

Bunda bercerita bahwa beliau hari itu pergi ke kota Pasuruan bersamaan dengan kepergian kami menyelesaikan lawatan ke tiga makam di Jawa Tengah. Seusai kedua kegiatan yang terpisah itu, ternyata turun Wahyu Allah yang menandai berakhirnya babak pertama Salamullah yang dimulai sejak tahun 1997. Hari itu dinyatakan sebagai awal dari babak baru Salamullah yang entah bagaimana caranya akan dibawa Tuhan ke dunia.

Permulaan babak baru itu disandingkan dengan rencana kepergian Inul Daratista keliling dunia menjadi “duta bangsa”. Sebagaimana dinyatakan Syekh, Inul adalah sosok yang digambarkan dalam Kitab Wahyu sebagai utusan kedua yang membawa kemesuman dari ular naga merah (Nyi Loro Kidul). Ketika dia mengharu biru dan dimenangkan oleh bangsa Indonesia, maka Tuhan pun menjejakkan takdir-Nya dengan setara walaupun tak sama. Kesetaraan itu adalah rencana Tuhan untuk mewartakan Salamullah ke dunia. Bagaimana hal itu dapat terjadi, wallahu a’lam. Aku tak mau berharap banyak dan menyerahkan semuanya pada kehendak Tuhan.

Jakarta telah menunggu. Minggu dini hari, 10 Agustus 2003, pukul 03.30 kami tiba kembali di Mahoni.

***

Terima kasih ya Allah atas segala kelapangan dan kekuatan yang Engkau berikan sehingga kami semua dapat menjalankan apa-apa yang Engkau perintahkan. Semoga Engkau segera membukakan pintu berkah-Mu untuk menolong umat Islam dan bangsa Indonesia yang dirundung kesulitan yang tak ada habisnya. Semoga hati umat pun segera terbuka oleh kehendak-Mu dan cinta-Mu yang sedang Engkau ejawantahkan melalui pengutusan Malaikat Jibril menjadi Rasul dan Hakim-Mu untuk seluruh makhluk di alam semesta ini. Amin.

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.