Hampir dua minggu tak terasa Lawatan Tauhid berjalan. Tapi belum kelihatan sampai kapan perjalanan akan berakhir. Masih ada instalasi air yang harus diselesaikan, masih ada makam tiga wali di Jawa Tengah yang belum diselesaikan. Sementara itu, ada orang-orang yang harus kembali bekerja sebagaimana Feri. Selain itu, setiap orang mempunyai janji dan urusan-urusan yang juga harus diselesaikan di Jakarta.
Menurut jadwal, hari Sabtu 9 Agustus kami semua akan ke Jawa Tengah melawat ke tiga makam Walisongo yang ada di Jakarta sembari perjalanan pulang ke Jakarta. Masih menurut rencana itu, Bunda tak ikut karena akan tinggal di Pandaan untuk jangka waktu yang lebih lama, mungkin sampai tahun 2004. Tapi rencana itu kemudian berubah drastis dan menjadi ujian sekejab ketika pada hari Jumat pagi (8 Agustus) Syekh menyatakan bahwa akan ada acara pada tanggal 21 Agustus yang merupakan hari kelahiran Bunda dan semua orang tak perlu kembali ke Jakarta.
Mendapati kabar itu, tentu saja mulai muncul kehebohan-kehebohan kecil. Yang kelihatan paling terpukul adalah Ibu Ietje yang mempunyai janji dengan kakaknya yang sedang dirawat di Malaysia. Selain itu, sebagian besar kami tentu saja mempunyai urusan-urusan yang harus kami selesaikan karena sejak awal kami hanya bersiap untuk pergi selama satu minggu.
Aku sendiri pada awalnya sedikit goyah karena bisnis yang baru kumulai bisa kacau kalau kutinggalkan begitu saja selama kurang lebih satu bulan. Tapi aku dan Lala menahan diri untuk tak berkomentar sampai kehebohan itu sedikit demi sedikit mulai mereda. Kami tak mengambil posisi untuk meminta ijin pulang atau menyatakan tetap tinggal di Pandaan. Ketika keadaan mulai reda, Bunda mulai menyatakan bahwa yang diijinkan Syekh untuk pergi adalah Feri karena dia harus bekerja, Mas Rahman yang harus menyelesaikan lawatan ke Walisongo, aku yang diijinkan untuk mengurusi bisnisku, dan Pak Arifin yang ijinnya untuk menyelesaikan urusan dengan mahasiswanya dikabulkan. Selain itu ada Ibu Ietje yang juga berkeras minta ijin yang kemudian diijinkan Syekh dengan denda membeli handycam dan printer.
Sementara Ibu Ietje berkemas dan bersiap-siap, aku berdiskusi dengan Lala tentang kepulanganku ke Jakarta. Kalau pada kepulangan awalku dulu (3 Agustus) adalah menyelesaikan laporan yang bisa kuselesaikan sendiri, pada saat ini sebenarnya aku membutuhkan Lala karena dia sebenarnya yang lebih banyak mengurusi marketing. Ketika aku minta ijin agar Lala bisa ikut pulang, ternyata ijin itu tak diberikan Syekh. Dan setelah berunding dengan Lala, kami lalu memutuskan untuk tak jadi pulang ke Jakarta karena aku merasa tak terlalu efektif jika harus pulang ke Jakarta mengurusi bisnis itu sendirian. Tapi begitu menyatakan tak ikut berangkat ke Jakarta, Syekh justru memerintahkan aku ikut rombongan karena aku pernah berjanji akan terus mendampingi Mas Rahman. So, akhirnya aku berangkat juga ke Jakarta karena mendapat tugas itu.
Sementara proses terus berlangsung, aku melihat Ibu Ietje sedang berdialog dengan Bunda di teras depan. Aku tak tahu isi pembicaraanya, tapi dari jauh isi pembicaraannya kelihatan berat. Seusai pembicaraan itu, aku mendengar bahwa Ibu Ietje memutuskan untuk tidak jadi pulang ke Jakarta.
Dan tak lama setelah itu, di meja makan Bunda bercerita tentang perimbangan ujian yang saat ini diberikan Syekh yaitu penundaan kepulangan ke Jakarta karena ada sesuatu hal besar yang hendak dinyatakannya pada tanggal 21 Agustus nanti. Kepada kami, Bunda bercerita bahwa pada saat ini Tuhan sedang mendidik dan menyiapkan kami semua menjadi tanaman-Nya yang diharapkan tumbuh dan berkembang. Kami ini diibaratkan tanaman yang sudah tumbuh besar (dengan pengalaman hidup kami) dan akan dipindahkan ke tempat lain (yang disiapkan Tuhan). Sementara Tuhan sedang mencangkul dan menyiapkan lahan untuk tempat tumbuh, kami harus menyiapkan agar akar kami cukup kuat untuk dipindahkan. Kalau akar itu tak cukup kuat beradaptasi, tanaman itu akan mati di tempat yang baru. Nah, ujian tanggal 21 Agustus itu dinyatakan sebagai ujian kami memilih prioritas-prioritas kami dan bagaimana kami menanggapi berita dari Tuhan. Itulah akar diri kami yang seharusnya sudah kuat dan dapat hidup di mana pun kami berada.
Ternyata, walaupun sudah dididik keras sekian lama, kami masih tetap sangat manusiawi dan masih rawan untuk terpengaruh memilih kepentingan kami daripada urusan Tuhan yang harus lebih kami prioritaskan. Sementara itu, Syekh menyatakan bahwa urusan Salamullah tak pernah main-main karena kami sedang menunggu berkah Tuhan untuk seluruh umat manusia. Dan berkah itu baru diturunkan seiring dengan kebulatan iman kami kepada-Nya. Urusan itu tentu saja tak kecil, tapi ternyata kami masih sering lupa dan tak awas karena terdesak oleh kepentingan-kepentingan pribadi kami.
Seiring dengan nasihat Syekh itu, kami terjaga kembali dalam kesadaran penuh untuk menaklukkan kepentingan-kepentingan pribadi kami demi kepentingan Tuhan dan urusan orang banyak. Betapapun lemahnya iman kami, kami akan terus belajar mementingkan urusan Tuhan.
agar kami dapat selalu setia dan mementingkan-Mu
hingga akhir hayat kami. Amin.
DIarsipkan di bawah: Diari, Perjalanan, eden, ldc, religi | Ditandai: religi, Perjalanan, salamullah, ujian pribadi