• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

LDC (31): Addendum, Surat Masjid Al Ikhlas

Ujian dengan masjid Al Ikhlas depan rumah Mas Agus ternyata belum selesai (lihat: Ujian Tetangga). Walaupun ketua yayasan menerima dengan baik masukan tentang suara speaker masjid yang sangat keras, tidak ada follow-up untuk mengecilkan volume speaker masjid. Dengan kata lain, aktivitas berjalan seperti biasa tanpa ada perubahan apapun.

LDC (30): Addendum, Surat MMI

Tak lama setelah sampai di Jakarta, datang sepucuk surat dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang pemimpinnya adalah Abu Bakar Ba’asyir. Surat berkop Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) itu ditandatangani oleh Fauzan Al-Anshari yang menjadi Ketua II MMI dan menyatakan menuliskan surat atas arahan Ust. Abu Bakar Ba’asyir sehubungan dengan surat yang disampaikan Salamullah ke PP Al [...]

LDC (29): Addendum, Mubahalah (2)

Sekembali dari perjalanan Pandaan-Jakarta, telah menunggu banyak urusan lain yang harus diselesaikan. Salah satunya adalah permintaan dari kelompok Mudahamah (Mujahid Dakwah Antisipasi Harakah Hadamah) dari pemuda Persis yang meminta untuk dilakukan mubahalah (sumpah keyakinan) dengan Salamullah. Kelompok yang dipimpin oleh Zenal Arifin Abu Dhiya itu memang sudah beberapa kali datang ke Salamullah. Bahkan sebelum keberangkatan [...]

LDC (27): Lawatan Perdamaian, Next Journey

Hujan di Bandung dan hari terakhir perjalanan bagaikan sebuah rahmat Allah bagi kami. Sudah 34 hari kami melangkah sejak dari Jakarta, menyusuri Jawa hingga Bali, tak pernah sekalipun kami menjumpai hujan. Dan hujan itu betul-betul terasa sebagai nikmat yang menjadi penutup perjalanan kami.

LDC (26): Lawatan Perdamaian, Ujian Pribadi

Perjalanan panjang selama 34 hari bersama-sama bukanlah perjalanan yang mudah. Walaupun banyak hal-hal yang menyenangkan dan tugas-tugas padat yang harus kami selesaikan, gesekan-gesekan tak bisa dihindarkan sama sekali selama perjalanan. Kebiasaan hidup dan karakter yang berbeda membuat kami harus mampu mengendalikan diri dan bertoleransi satu sama lainnya. Dalam kondisi sadar, hal-hal semacam itu biasanya dapat [...]

LDC (25): Lawatan Perdamaian, Bulan Kembar

Sewaktu masih di Pandaan, Mbak Dunuk mendapat email dari Chippy tentang kemunculan planet X yang menjadi fenomena langka semesta. Di dalam email itu diceritakan tentang kemunculannya sejak awal bulan Agustus dan mencapai puncaknya pada tanggal 27 Agustus dan digambarkan sebagai bintang yang sangat terang di langit.

LDC (24): Lawatan Perdamaian, Jejak Silaturahmi

Kunjungan silaturahmi dan doa untuk bangsa di PP Langitan Tuban (tempat Ust. Abdullah Faqih), PP Tebuireng Jombang (KH Yusuf Hasyim), Buntet Cirebon (KH Abdullah Abbas), Az Zaytun Indramayu, Masjid Salman, dan Yayasan Muthahhari Bandung.

LDC (23): Lawatan Perdamaian, Rahmat bagi Semesta

Menyampaikan pesan perdamaian kepada Ust. Abu Bakar Ba’asyir di PP Ngruki, Ust. Ja’far Umar Thalib (mantan pemimpin Lasykar Jihad) di PP Ihya As Sunnah Kaliurang.

LDC (22): Lawatan Perdamaian, Persidangan Bom Bali

Menyampaikan pesan Malaikat Jibril kepada para teroris bom Bali, antara lain Imam Samudra.

LDC (20): Lawatan Perdamaian, Terlarang Membunuh

Hari itu sebagian besar teman-teman pergi ke Gunung Bromo sementara Bunda tinggal di Pandaan bersama Nur. Aku sendiri pada waktu itu sedang berada di Madiun bersama Lala untuk menjenguk Ibuku yang kambuh lagi sakitnya.